Banner ADV

Diseminasi Audit Kasus Stunting 2025,  Perbaikan Sanitasi dan Pola Asuh sebagai Kunci Pencegahan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Diseminasi Audit Kasus Stunting 2025,  Perbaikan Sanitasi dan Pola Asuh sebagai Kunci Pencegahan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Diseminasi Audit Kasus Stunting 2025,  Perbaikan Sanitasi dan Pola Asuh sebagai Kunci Pencegahan

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Reporter: Lutfi Aziz | Editor: Bambang Irawan

BONTANG - Upaya percepatan penanganan stunting kembali dipertegas Pemerintah Kota Bontang melalui kegiatan Diseminasi Audit Kasus Stunting Tahun 2025 yang berlangsung di Aula BPU Kelurahan Kanaan. 

Kegiatan yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) tersebut menjadi forum evaluasi mendalam atas berbagai faktor yang masih memicu risiko stunting di masyarakat.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, tampil sebagai narasumber utama. Dengan latar belakang medis yang dimilikinya, ia memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi kesehatan ibu dan anak, disertai rekomendasi berbasis pengalaman klinis. 

Sejumlah pakar kesehatan meliputi dokter spesialis, psikolog, dan ahli gizi turut memperkaya diskusi dengan pemaparan kontekstual terkait persoalan di lapangan.

Di hadapan kader TPK dan tenaga lapangan, Wali Kota Neni menekankan bahwa meskipun data menunjukkan penurunan kasus dalam delapan bulan terakhir, tantangan masih besar. Ia mengingatkan bahwa capaian menuju target prevalensi 14,4 persen pada 2029 dan 5 persen pada 2045 membutuhkan kerja terpadu seluruh pemangku kepentingan.

"Stunting hanya bisa ditekan lewat sinergi. Masyarakat, keluarga, dan pemerintah harus bergerak seirama untuk menerapkan budaya hidup bersih dan kebiasaan sehat," ujar Neni, Kamis (27/11/2025). 
Dalam paparannya, ia kembali menyoroti pentingnya intervensi sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Menurutnya, program seperti pemberian makanan tambahan (PMT) tidak akan efektif tanpa dukungan sanitasi yang layak. Permasalahan dasar seperti keterbatasan jamban sehat dan akses air bersih masih menjadi hambatan di sejumlah titik.

Selain aspek kesehatan, Wali Kota Neni menyinggung pengaruh era digital terhadap tumbuh kembang anak. Ia meminta orang tua lebih selektif dengan konten yang dikonsumsi anak, mengingat paparan informasi negatif dapat berdampak pada pola asuh dan kondisi psikologis mereka.

Pemerintah Kota Bontang kini mengintegrasikan berbagai strategi untuk mempercepat penanganan stunting. Program unggulan seperti “Saskia Hebat”, Operasi Timbang, hingga penguatan perilaku hidup bersih melalui gerakan “GESIT” terus digencarkan.

Wali Kota Neni optimistis bahwa kombinasi intervensi gizi, perbaikan sanitasi, dan penguatan literasi pengasuhan akan menjadi fondasi kuat dalam membentuk generasi Bontang yang lebih sehat dan bebas dari risiko stunting. (Adv)