Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB - Tahun 2026 menjadi titik penting bagi perubahan pola akses transportasi di Kabupaten Berau. Kawasan kepulauan yang selama ini identik dengan perjalanan terbatas dan bergantung pada penerbangan perintis, kini mulai memasuki fase baru dengan hadirnya penerbangan komersial berjadwal menuju Maratua.
Mulai 4 Januari 2026, jalur udara Samarinda–Maratua–Berau resmi dilayani maskapai Wings Air. Kehadiran rute ini bukan hanya menambah pilihan penerbangan, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk mengintegrasikan wilayah kepulauan dengan pusat-pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata di Kalimantan Timur.
Pesawat jenis ATR berkapasitas 72 penumpang akan melayani rute tersebut secara reguler tiga kali dalam sepekan, setiap Rabu, Jumat, dan Minggu.
Pola singgah ini dinilai mampu menjawab kebutuhan wisatawan dan pelaku usaha yang selama ini mengandalkan waktu tempuh panjang dan jadwal terbatas.
Kepala BLU UPBU Kelas I Bandara Kalimarau, Patah Atabri, mengungkapkan bahwa kepastian pembukaan rute tersebut menjadi kejutan positif, mengingat sebelumnya terdapat kendala teknis dalam perencanaan operasional. Jarak antarbandara yang relatif dekat sempat dianggap kurang ideal untuk efisiensi penerbangan.
“Awalnya memang ada pertimbangan teknis, karena siklus terbangnya sangat pendek. Namun setelah komunikasi intensif, konsep rute singgah akhirnya disepakati,” jelasnya.
Menurut Patah, keberhasilan membuka rute ini tidak lepas dari upaya lobi dan koordinasi berkelanjutan dengan manajemen Lion Group. Skema Samarinda–Berau yang disambungkan dengan Maratua dinilai lebih realistis dan memberikan manfaat ganda, baik bagi maskapai maupun daerah.
Lebih dari sekadar rute baru, penerbangan ini dipandang sebagai pemicu kebangkitan Bandara Maratua yang selama ini belum dimaksimalkan. Dengan status penerbangan komersial, arus wisatawan diharapkan meningkat, sejalan dengan promosi Maratua sebagai destinasi wisata bahari berkelas internasional.
Dari sisi tarif, harga tiket Wings Air menuju Maratua diperkirakan berada di kisaran Rp700.000 hingga Rp800.000. Meski lebih tinggi dibandingkan penerbangan perintis bersubsidi, Patah menilai harga tersebut masih sepadan dengan layanan, kapasitas angkut, serta efisiensi waktu tempuh yang ditawarkan.
“Ini penerbangan komersial, jadi tentu ada perbedaan harga. Namun bagi wisatawan dan rombongan besar, justru lebih efisien,” pungkasnya.
Dengan terbukanya jalur udara ini, Kabupaten Berau diharapkan tidak hanya menjadi daerah tujuan, tetapi juga simpul konektivitas baru yang menghubungkan daratan dan kepulauan secara lebih cepat dan berkelanjutan.


