PERS YANG SEHAT, AWAL DEMOKRASI YANG KUAT

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
PERS YANG SEHAT, AWAL DEMOKRASI YANG KUAT

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

PERS YANG SEHAT, AWAL DEMOKRASI YANG KUAT

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
PERS YANG SEHAT, AWAL DEMOKRASI YANG KUAT

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

PERS YANG SEHAT, AWAL DEMOKRASI YANG KUAT

Oleh: Prakoso Yudho Lelono (Ketua KPU Balikpapan)

Hari Pers Nasional selalu relevan. Bukan hanya untuk insan pers. Tapi untuk kita semua, bangsa Indonesia sebagai warga negara. Karena setiap hari kita hidup dari informasi. Membaca berita. Menonton laporan. Mendengar analisis.

Tema tahun ini begitu tegas dan visioner: Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat. Ini bukan slogan kosong, tetapi ini arah. Pengingat bahwa kualitas pers berpengaruh langsung pada kualitas bangsa.

Hari ini informasi datang tanpa henti. Notifikasi berbunyi setiap menit. Timeline bergerak setiap detik. Semua terasa sangat cepat. Tapi tidak semua yang cepat itu benar. Tidak semua yang viral itu faktual.

Di sinilah pers profesional dibutuhkan. Pers yang bekerja dengan metode dan etika. Dengan verifikasi. Bukan sekadar opini. Bukan sekadar mencari sensasi. Karena pers yang sehat itu bukan yang paling keras suaranya. Tapi yang paling kuat datanya.

Sebagai Ketua KPU Kota Balikpapan, saya merasakan langsung bagaimana peran pers dalam menjaga kualitas demokrasi. Setiap tahapan pemilu dan pilkada selalu bersinggungan dengan media. Dari sosialisasi. Edukasi pemilih. Sampai pelaporan proses dan hasil. Bagi kami sebagai penyelenggara pemilu, media bukan hanya peliput kegiatan. Media adalah mitra pendidikan publik.

Aturan pemilu itu tidak selalu sederhana. Banyak istilah teknis. Banyak prosedur. Banyak batasan. Andai dijelaskan dengan bahasa regulasi, publik pasti bingung. Di sinilah jurnalis menerjemahkan. Menyederhanakan. Membuatnya mudah dipahami. Hal itu kontribusi besar.

Pers juga membantu mengontrol informasi yang salah. Kita tahu, setiap musim pemilu dan pilkada selalu diiringi hoaks. Potongan video tanpa konteks. Kutipan tanpa sumber. Narasi tanpa data. Kalau ini dibiarkan, maka bisa merusak kepercayaan publik. Bisa menurunkan partisipasi dan bisa memicu konflik.

Pers yang sehat berdiri di tengah. Meluruskan dan menguji klaim. Menghadirkan pembanding. Dan sekali lagi, ini kerja penting. Kerja sunyi. Tapi dampaknya sangat luas. Sebab demokrasi tidak hanya soal memilih. Tapi soal memahami. Memahami butuh informasi yang jernih. Bukan informasi asal bunyi.

Tema Hari Pers Nasional tahun ini juga menyinggung ekonomi berdaulat. Sebagian orang mungkin bertanya, apa hubungan pers dengan ekonomi? Hubungannya dekat. Sebab ekonomi bergerak di atas kepercayaan. Pasar butuh kepastian. Pelaku usaha butuh informasi yang stabil. Investor butuh gambaran yang objektif. Semua sangat bergantung pada kualitas pemberitaan. Berita yang akurat menenangkan pasar. Berita yang keliru dapat mengguncang sentimen publik.

Selain itu, pers juga mengangkat cerita ekonomi rakyat. UMKM. Inovasi lokal. Produk daerah. Peluang usaha. Ini membantu perputaran ekonomi. Membuka akses. Memperluas jangkauan. Media daerah punya peran khusus di sini. Karena paling dekat dengan denyut ekonomi lokal.

Di Kalimantan Timur, termasuk Balikpapan, kita melihat banyak inisiatif ekonomi tumbuh dari bawah. UMKM digital. Ekonomi kreatif. Jasa berbasis komunitas. Banyak di antaranya dikenal publik karena diberitakan media. Artinya, pers ikut menjadi penggerak ekosistem.

Namun kita juga perlu jujur. Tantangan pers hari ini tidak ringan. Model bisnis media berubah drastis. Platform digital global menguasai distribusi. Pendapatan iklan bergeser. Persaingan makin ketat. Di tengah tekanan itu, godaan jalan pintas selalu ada. Judul bombastis.

Narasi sepihak. Kecepatan tanpa cek fakta. Hal itu menjadi momok bagi kita semua. Kualitas berita akan kehilangan kepercayaan.

Untuk itu, menjaga kesehatan pers berarti menjaga disiplin etikanya. Menjaga standar kerja dan integritas redaksinya. Pers sehat bukan berarti tanpa salah. Tapi berani mengaku salah, kemudian mengoreksi secara terbuka. Di situlah tanda kedewasaan. Selain itu, hubungan antara lembaga publik dan pers juga perlu terus diperbaiki. Harus lebih terbuka, lebih dialogis, lebih berbasis data. Tidak defensif dan saling curiga.

Kami di KPU Kota Balikpapan berkomitmen memperkuat keterbukaan informasi. Menyediakan data. Menjawab pertanyaan. Memberi akses klarifikasi. Karena kami sadar, ruang kosong informasi akan cepat diisi spekulasi. Lebih baik menjelaskan lebih awal daripada meluruskan di akhir.

Pada penyelenggaraan pemilu dan pilkada lalu, pers juga membantu kami menerima masukan masyarakat. Beberapa kritik publik justru kami ketahui dari pemberitaan. Itu menjadi bahan evaluasi. Bahan perbaikan. Jadi relasinya bukan satu arah. Tapi timbal balik.

Bangsa yang kuat tidak dibangun hanya dengan infrastruktur. Tidak hanya dengan pertumbuhan ekonomi. Tapi juga dengan kualitas wacana publik. Cara kita berdiskusi. Cara kita berbeda pendapat. Cara kita menyikapi fakta. Di sinilah pers berperan membentuk budaya dialog itu.

Jika pers “sehat”, perdebatan akan menjadi perdebatan berbasis data. Tapi jika persnya sakit, perdebatan menjadi ajang adu emosi dan sentimental. Kita tentu ingin yang pertama. Agar budaya diskusi terbangun berbasis argumentasi berdasar analisis dan data. Bukan sebaliknya.

Pada momentum Hari Pers Nasional tahun ini, saya juga ingin mengajak masyarakat menjadi konsumen informasi yang bertanggung jawab. Jangan menelan mentah-mentah. Jangan latah menyebarkan informasi sebelum memvalidasi. Jangan terprovokasi judul berita tanpa menelaah isi dan validitasnya. Baca isi. Lihat sumber. Bandingkan media.

Kualitas pers juga dipengaruhi kualitas pembacanya. Apresiasi juga layak kita berikan kepada para jurnalis di lapangan. Yang bekerja sejak pagi. Pulang larut. Mengejar konfirmasi. Menunggu narasumber. Menyusun laporan. Semua agar publik mendapat informasi yang layak. Kerja pers adalah kerja untuk kepentingan umum.

Akhir kata, Hari Pers Nasional adalah pengingat bersama. Bahwa informasi adalah fondasi. Pers adalah pilar. Dan kepercayaan adalah kuncinya. Mari kita jaga ekosistem informasi yang sehat. Merawat ruang publik yang waras. Karena ketika pers sehat, demokrasi kuat. Ekonomi tumbuh. Dan bangsa berdiri lebih kokoh.

Selamat Hari Pers Nasional. Prakoso Yudho Lelono, Ketua KPU Kota Balikpapan.