DOA SAPU JAGAT

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Penulis berada di dalam foto bersama rapat tahunan Koran Kaltim Group di Hotel Grand Verona, Sabtu (28/2/2026). (Foto: Dok.Koran Kaltim)
Penulis berada di dalam foto bersama rapat tahunan Koran Kaltim Group di Hotel Grand Verona, Sabtu (28/2/2026). (Foto: Dok.Koran Kaltim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DOA SAPU JAGAT

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Penulis berada di dalam foto bersama rapat tahunan Koran Kaltim Group di Hotel Grand Verona, Sabtu (28/2/2026). (Foto: Dok.Koran Kaltim)
Penulis berada di dalam foto bersama rapat tahunan Koran Kaltim Group di Hotel Grand Verona, Sabtu (28/2/2026). (Foto: Dok.Koran Kaltim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DOA SAPU JAGAT 

Penulis berada di dalam foto bersama rapat tahunan Koran Kaltim Group di Hotel Grand Verona, Sabtu (28/2/2026). (Foto: Dok.Koran Kaltim)

Oleh: Achmad Fadillah

PERJALANAN dari Balikpapan menuju Samarinda menghadirkan banyak cerita. Kali ini, kami berlima berangkat untuk menghadiri rapat tahunan Koran Kaltim Group sekaligus buka puasa bersama di Hotel Grand Verona, Sabtu (28/2/2026).

Saya mewakili Pusaranmedia.com. Empat rekan lainnya berasal dari media dalam lingkaran grup: Hendra En (Kepala Biro Koran Kaltim), La Eko dan Januar Solihin (wartawan Koran Kaltim), serta Maya Sari dari Seputarfakta.com.

Mobil kami dikemudikan Ari—sapaan akrab Maya Sari. Sejak awal perjalanan, obrolan di dalam kabin tak pernah berhenti.

Cerita pertama muncul saat melintas di Jalan Mayor TNI AD Imat Saili, kawasan Sungai Ampal. Sebuah mobil hitam tiba-tiba memepet, melaju sejajar seolah ingin menerobos.

Kami sempat menebak-nebak tujuannya. Awalnya kami kira mengejar pengemudi ojek online yang melaju lebih dulu. Namun setibanya di kawasan Mall Fantasi, mobil itu berbelok cepat ke area pertokoan.

Dugaan kami pun berubah. Mungkin sang sopir sedang terburu-buru karena urusan mendesak.

Kekesalan sempat muncul, terutama dari Ari. “Coba diklakson atau dikasih tanda, dikasih lewat pang,” ujarnya setengah kesal.

Kami ikut menimpali. Saya bahkan menyarankan agar pengemudi itu menyalakan bunyian suara. Suaranya seperti mobil Patwal, tut tut, tut. Namun, saya malah salah menyebut “Subroto”, bukan “strobo”.

Tawa pun pecah. Sejak itu, “Subroto” menjadi penumpang imajiner di mobil kami—orangnya tidak ada, tapi namanya terus disebut-sebut sepanjang perjalanan.

Setelah riuh tawa mereda, saya justru tertidur pulas hingga mobil melaju di Tol Balikpapan–Samarinda (Balsam). Kami sempat berhenti di rest area untuk beristirahat, lalu melanjutkan perjalanan.

Kali ini, giliran Januar Solihin yang membuka cerita. Ia berkisah tentang pertemuan singkat dengan seorang teman yang sebenarnya ia sesali.

Bagi kami, kisah itu justru terdengar romantis. Januar tak berkutik, diserang candaan bertubi-tubi dari La Eko, sementara kami tertawa melihat wajahnya memerah menahan malu.

Kami bahkan memberi judul untuk kisahnya: “Benalu Pahlawanku”.

Sepanjang tol, gelombang jalan tak terasa karena kami sibuk tertawa. Tiga jam perjalanan terasa singkat hingga akhirnya kami tiba di Samarinda.

Dari sana, kami langsung menuju Hotel Grand Verona. Di area parkir dan lobi hotel, rekan-rekan dari berbagai daerah dalam jaringan Koran Kaltim Group sudah saling menunggu.

Jabat tangan, senyum, dan sapa hangat menjadi pembuka sebelum rapat tahunan dimulai di lantai satu.

Rapat tersebut dihadiri jajaran pimpinan redaksi dari seluruh unit media di bawah naungan Koran Kaltim Group. Di tengah keramaian, perhatian saya tertuju pada Bang Maruly Zainuddin.

Ia duduk di kursi roda dengan baju koko dan kopiah. Sekilas saya mengira beliau akan membawakan tausiah menjelang buka puasa.

Perubahan posturnya yang kini tampak lebih kurus membuat saya terdiam sejenak. Tanpa banyak bertanya, saya hanya memanjatkan doa semoga beliau diberi kesehatan dan kesembuhan. Aamiin.

Begitu pula dengan Mba Yana, admin Koran Kaltim Biro Balikpapan, yang berhalangan hadir karena sakit.

Suasana rapat awalnya terasa tegang, namun sesekali diselingi senyum. Direktur Utama Koran Kaltim, Anti Rahayu, mengapresiasi kehadiran seluruh jajaran.

Ia menekankan bahwa rapat tahunan menjadi ruang refleksi kolektif agar setiap lini bergerak searah dengan target yang terukur.

“Harapan saya, dari yang kurang maksimal bisa benar-benar berubah menjadi maksimal di 2026,” ucap Mba Ayu, sapaan akrabnya.

Di sisi lain, Pimpinan Redaksi Pusaranmedia.com, Buniyamin, kembali mengingatkan pentingnya produktivitas berita bagi para reporter.

Rapat berakhir tepat saat jam berbuka puasa tiba. Kami membatalkan puasa di hari ke-10 Ramadan dengan hidangan kurma, risoles, serta menu utama berupa nasi lengkap dengan sup, mi, ayam, ikan, sambal, dan kerupuk.

Senyum yang tadi tersembunyi kini berubah menjadi lebar saat pembagian bonus tahunan. Rasa syukur terpancar dari wajah teman-teman yang hadir.

Malam harinya, saya dan tiga rekan menginap di Hotel Grand Kartika, sementara Ari tetap di Grand Verona. Sebelum beristirahat, kami diajak ngopi bersama wartawan Koran Kaltim group di Deka Coffee.

Malam yang terang menjadi ruang pelepas lelah—berbagi cerita, tertawa, dan mengenang kekonyolan rombongan Balikpapan.

Sekitar pukul 00.00 WITA, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Pagi harinya, La Eko membangunkan saya dengan kabar dari sebuah video di ponselnya tentang situasi konflik internasional.

Informasi itu kemudian menjadi bahan obrolan sepanjang perjalanan pulang ke Balikpapan, meski kami sadar belum tentu semuanya dapat dipastikan kebenarannya.

Namun Pimpinan tertinggi Iran, Ali Khamenei diberitakan tewas bersama cucu dan menantunya akibat serangan Amerika Serikat dan Israel.

Menjelang sore, kami meninggalkan rest area terakhir dan melanjutkan perjalanan. Cerita-cerita di dalam mobil terus mengalir hingga akhirnya kami tiba di Balikpapan sekitar pukul 16.30 WITA.

Alhamdulillah, perjalanan pergi dan pulang berlangsung lancar dan selamat. Banyak cerita tercipta, banyak candaan, ilmu, dan pengalaman yang kami bawa pulang.

Semua terasa menyatu, seolah disapu rata dalam cerita ini. Agar dapat berjalan lancar, satu doa sederhana yang selalu saya panjatkan setiap keluar dari pintu rumah pertama kali, yaitu doa untuk keselamatan dan kelancaran. Doanya itu adalah doa sapu jagat.