PENULIS : Naldi
Pada 1955, Laut Karampuang senantiasa biru, tapi biru itu bukan jaminan damai. Ombaknya bisa tenang, bisa juga menggulung tiba-tiba.
Di balik riak itu, banyak kisah getir yang ditelan waktu: rumah terbakar, sawah dirampas, orang hilang tanpa kabar.
Habibon, lelaki dengan sorot mata tajam, berdiri di tepi pantai. Angin malam meniup sarungnya, membawa serta suara rantai yang masih membekas di ingatan rantai yang dulu melilit tangannya saat ditawan.
Ia lolos, tapi luka batin itu menempel seperti garam di kulit.
Di belakangnya, Nasma, istrinya, sibuk menyiapkan tempayan berisi air. Anak-anak mereka duduk bersandar di batang kelapa yang miring ke laut. Wajah-wajah mungil itu diam, hanya mata mereka yang bicara.
“Bapak,” tanya Lauma, putra sulungnya, “Kenapa kita harus meninggalkan Karampuang? Bukankah ini tanah kita?”
Habibon menoleh dan jongkok hingga sejajar dengan mata anaknya.
“Tanah ini memang milik kita, nak. Tapi jika tanah yang kita cintai berubah jadi api, maka lautlah yang akan jadi rumah. Selama ada angin, kita tak akan tersesat.”
Nasma menunduk, air matanya jatuh menimpa jemari yang tengah mengikat wadah bekal.
Ia tahu, laut itu luas, tapi juga kejam. Tapi jika tetap tinggal, anak-anaknya hanya akan tumbuh dengan suara dentuman senjata, bukan tawa.
Malam itu, mereka menurunkan perahu layar ke air.
Kayu perahu sudah tua, tali talinya kusam, namun bagi mereka perahu itu bukan sekadar kayu: ia adalah harapan yang bisa terapung.
Ombak yang Menjadi Jalan
Mereka berangkat diam-diam, ditemani bulan separuh dan bintang yang berkelip samar. Angin timur mendorong layar, ombak berkilau seperti lentera-lentera kecil.
“Lihat, Bapak,” ujar Lauma sambil menunjuk air laut. “Bintang jatuh ke air!”
Habibon tersenyum tipis. “Itu bukan bintang jatuh, nak. Itu cahaya laut. Pertanda kita berada di jalur yang benar.”
Di tengah perahu, Nasma menyalakan tungku kecil dari pasir dan batu. Api mungil itu memeluk periuk berisi nasi. Aroma hangus tipis bercampur asin laut aroma keberangkatan.
Anak bungsu mereka, Saliha, bersandar di pangkuan ibunya. “Ibu, apakah di seberang laut ada pohon mangga seperti di halaman kita?” tanyanya polos.
“Lebih banyak, nak,” jawab Nasma, menahan isak. “Dan kau boleh memanjatnya setinggi langit.”
Malam itu, di tengah ombak, perahu kecil itu melaju dengan doa yang lirih.
Pulau Pasir yang Menyambut
Sehari semalam perahu menari di atas gelombang. Jika angin bersahabat, perjalanan terasa singkat; jika melawan, laut berubah labirin. Kali ini, angin berpihak.
Mereka tiba di sebuah pulau kecil: hanya hamparan pasir putih, dikelilingi semak dan air dangkal. Namun bagi rombongan Habibon, pulau itu adalah pangkuan ibu yang menenangkan.
Anak-anak melompat ke pasir, menjerit riang meski kaki mereka perih oleh karang. Lauma berteriak, “Bapak! Pasirnya seperti beras!”
Habibon tertawa untuk pertama kalinya setelah sekian lama. “Maka kita namai pulau ini Beras Basah.”
Pulau itu hanya singgah. Mereka membangun pondok sederhana dari batang kayu hanyut, menyalakan api unggun, dan tidur dengan nyanyian ombak. Malam itu, untuk pertama kalinya mereka tidak mendengar dentuman senjata.
Nasma berbaring di pasir, menatap bintang. “Bang,” bisiknya pada Habibon, “kalau pulau ini bisa bicara, mungkin ia akan berkata: tinggallah di sini, aku akan menjagamu.”
Habibon menggenggam tangannya. “Pulau ini hanya pintu, Nasma. Rumah kita masih menunggu di seberang.”
Rumah di Atas Ombak
Dari pulau pasir, langkah mereka berlanjut ke sebuah perairan dangkal bernama Tihi-Tihi. Di sana, mereka mendirikan rumah kayu di atas tiang bakau, seakan menumbuhkan kembali Karampuang di tanah asing.
Pagi-pagi, seorang pemuda bernama Rijal mendayung perahu kecil ke laut, memasang perangkap ikan. “Habibon,” katanya suatu sore, “laut di sini ramah. Ikan melimpah, kita bisa hidup.”
Habibon mengangguk, tapi matanya menatap jauh. “Laut memberi kita makan, Rijal. Tapi tanahlah yang memberi kita hidup.”
Perempuan-perempuan di Tihi-Tihi menyelam mencari kerang, menjual hasilnya ke Bontang Kuala. Anak-anak berlarian di titian sempit. Namun musim kemarau panjang membuat air tawar menjadi kerinduan.
Saliha pernah menangis, bibirnya merekah kering. “Ibu, aku ingin air sungai, bukan air asin.”
Nasma memeluknya erat. “Sabar, nak. Hujan pasti datang.”
Suatu malam, Habibon berkumpul dengan beberapa lelaki kampung di bawah rumah panggung.
“Kita tak bisa selamanya hidup dari air hujan,” katanya tegas. “Kita harus mencari daratan, tanah yang bisa kita tanami.”
Tanah Baru dan Persaudaraan
Tahun 1957, Habibon memimpin rombongan ke pesisir Tanjung Laut. Mereka menemui seorang tokoh Kutai bernama Datu Jaim, lelaki tua dengan mata yang menyimpan kebijaksanaan hutan dan sungai.
Habibon menunduk hormat. “Kami orang Mamuju, datang dengan niat baik. Kami tidak mencari perang, hanya sepetak tanah untuk hidup.”
Datu Jaim menatap mereka lama. “Hulu adalah milik kami, hilir boleh kalian tempati. Tapi ingat: jangan melupakan batas, jangan pula melupakan persaudaraan.”
Maka barter pun terjadi. Sarung ditukar sebidang tanah, ikan kering ditukar lahan. Pertukaran sederhana itu menjadi jembatan dua budaya.
Habibon, dengan wibawa yang tak pernah padam, akhirnya ditunjuk sebagai kepala kampung di Sampoang. Ia menata kaumnya, mengajarkan mereka rendah hati pada orang Kutai, tetapi juga tegak sebagai bagian dari negeri.
Gelombang yang Menyusul
Tahun-tahun berikutnya, rombongan lain menyusul. Karim, nelayan muda, datang bersama istrinya Aira dan dua anak kecil. Ada pula Jubaedah dan suaminya Daeng Sali, lelaki gemar bercerita.
Suatu sore di Sampoang, Karim bertanya pada Habibon,
“Apakah kita akan selalu diterima di sini?”
Habibon tersenyum bijak. “Selama kita tahu diri, selama kita menghormati tanah orang, maka kita tidak akan diusir. Ingat, Karim, akar kita boleh dari Mamuju, tapi batang kita harus tumbuh di sini.”
Habibon, Lelaki yang Mengikat Angin
Habibon menua bersama waktu. Rambutnya memutih, langkahnya melambat, tapi suaranya tetap jadi pegangan. Setiap sengketa, setiap kebimbangan, orang selalu datang padanya.
Suatu malam, Lauma yang kini beranjak dewasa berdiri di samping ayahnya.
“Bapak, apakah Bapak menyesal meninggalkan Karampuang?”
Habibon menatap langit berbintang. “Tidak, nak. Jika aku tidak berlayar malam itu, kau mungkin tidak akan berdiri di sini sekarang. Kadang rumah bukanlah tanah tempat kita lahir, tapi tempat di mana anak-anak kita bisa tumbuh tanpa rasa takut.”
Ketika akhirnya Habibon menutup mata untuk selamanya, kampung Sampoang sudah berdiri tegak. Rumah-rumah kayu menjulang di pesisir, tanah-tanah ditanami padi, anak-anak berlarian tanpa ketakutan.
Karampuang mungkin telah terbakar, tapi dari abunya tumbuh kampung baru yang lebih subur.
Dan Habibon dialah lelaki yang menyeberangkan bangsanya, lelaki yang mengikat angin agar tetap berhembus di layar perahu mereka.


