Kartini Masa Kini Berseragam Damkar Kukar, Ditempa Api Sejak Hari Pertama

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
5 menit baca
Dhiah Ayu Mulyaningrum anggota Damkar Kukar Pos Sektor Loa Kulu (Foto: Aswin/pusranmedia.com)
Dhiah Ayu Mulyaningrum anggota Damkar Kukar Pos Sektor Loa Kulu (Foto: Aswin/pusranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kartini Masa Kini Berseragam Damkar Kukar, Ditempa Api Sejak Hari Pertama

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
5 menit baca
Dhiah Ayu Mulyaningrum anggota Damkar Kukar Pos Sektor Loa Kulu (Foto: Aswin/pusranmedia.com)
Dhiah Ayu Mulyaningrum anggota Damkar Kukar Pos Sektor Loa Kulu (Foto: Aswin/pusranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kartini Masa Kini Berseragam Damkar Kukar, Ditempa Api Sejak Hari Pertama

Dhiah Ayu Mulyaningrum anggota Damkar Kukar Pos Sektor Loa Kulu (Foto: Aswin/pusranmedia.com)

Oleh : Aswin/pusaranmedia.com

BELASAN tahun lalu, seorang perempuan muda berdiri menatap tegang kobaran api yang mengamuk. Bukan karena takut, melainkan bingung.

Hari itu adalah hari pertamanya bekerja sebagai pemadam kebakaran.

Suara teriakan dan wajah-wajah panik masih terasa asing baginya.

Tanpa pengalaman lapangan, ia hanya berbekal teori yang bahkan belum sempat dipraktikkan melalui simulasi.

Situasi mencekam itu memaksanya berpikir cepat, bergerak dan melakukan apa saja yang bisa dilakukan, membantu rekan-rekannya mengoperasikan peralatan pemadam yang sebelumnya tak pernah ia kenal.

“Baru pertama kali masuk langsung dapat simulasi yang benar-benar kebakaran, terus kebakaran rumah yang besar sampai sekitar lima rumah,” kenangnya mengingat peristiwa pertama itu.

Sosok tersebut adalah Dhiah Ayu Mulyaningrum. Lahir di Trenggalek, Jawa Timur pada 9 Maret 1990, kini menjadi satu-satunya anggota perempuan di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kutai Kartanegara (Kukar), Pos Sektor Kecamatan Loa Kulu.

Perempuan yang akrab disapa Ayu ini merantau ke Kutai Kartanegara pada 2011.

Dengan latar belakang sarjana pendidikan, awalnya ia bercita-cita menjadi guru.

Namun pada 2012, ia justru merintis karier sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) di Damkarmatan Kukar Pos Sektor Loa Kulu.

Hingga akhirnya pada 2024, ia diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan kini menjabat sebagai anggota pemadam kebakaran pemula.

Awalnya, Ayu mengaku hanya iseng mendaftar sebagai relawan damkar yang saat itu dibuka untuk tujuh kecamatan, termasuk Loa Kulu.

Tak disangka, ia justru mendapatkan Surat Keputusan (SK) sebagai relawan, lalu dalam waktu satu hingga dua bulan diangkat menjadi tenaga honorer.

“Nah akhirnya dikesampingkan yang tadi itu, sarjana pendidikan yang mau jadi guru. Sudah nyaman di sini, maksudnya kita menolong orang, membantu orang,” ujarnya sambil sedikit memperbaiki tempat duduknya.

Saat menentukan pilihan tersebut, Ayu justru mendapat dukungan penuh dari keluarga, meski latar belakang keluarganya mayoritas berprofesi sebagai guru.

“Jadi ini saya sendiri nih yang ‘keluar jalur’, tapi ya kamu nyaman kan di situ, ya saya nyaman. Mereka mendukung semua, karena kan ada istilah tugas mulia seorang damkar,” katanya.

Suatu siang, rintik hujan perlahan membasahi halaman Markas Komando (Mako) Damkar Sektor Loa Kulu.

Bau tanah basah bercampur dengan aroma aspal yang masih menyimpan sisa panas siang, menguap pelan ke udara, menghadirkan ketenangan setelah terik yang panjang.

Dari jalan di depan mako, suara kendaraan sesekali melintas tidak ramai, hanya cukup untuk menjadi latar yang samar, tanpa benar-benar memecah keheningan yang menyelimuti tempat itu.

Ketika pandangan bergeser ke dalam, suasana terasa lebih hening.

Di garasi, Ayu duduk di kursi kayu sederhana, tempat yang kerap digunakannya untuk menulis laporan atau menerima tamu.

Di belakangnya, mobil damkar terparkir rapi, siap meluncur kapan saja. Seperti Ayu, yang saat itu telah mengenakan atribut lengkap.

Seragam dinas biru dengan logo di lengan, serta bordir kuning bertuliskan “pemadam” di dada.

Rambutnya terurai, sementara baret pemadam terpasang mantap di kepalanya.

Dari sana, ia mulai mengisahkan pengalaman yang paling membekas dalam hidupnya.

Hari pertama bertugas, ia baru saja berkenalan dengan rekan-rekannya. Pagi itu mereka hanya menerima materi teori, sementara praktik lapangan dijadwalkan keesokan harinya.

Namun sekitar pukul 19.00 WITA, selepas salat magrib, kebakaran hebat terjadi. Lokasinya hanya sekitar 300 meter dari mako.

Suasana hangat perkenalan berubah seketika menjadi kepanikan.

Kebakaran yang menghanguskan sekitar lima rumah itu menjadi “latihan” pertama. Bukan simulasi, melainkan kenyataan.

“Padahal waktu itu kami masih kosong betul, baru besok mau lapangan. Hari ini masih teori, kenapa sebelum lapangan ini sudah diberi simulasi nyata sama Tuhan,” kisahnya sambil tertawa kecil.

Menurut Ayu, pengalaman itu menjadi yang paling berkesan, meski ia telah menghadapi banyak kejadian lain selama bertugas.

“Dapat ular sebesar paha manusia pernah, ular piton. Dapat kobra besar juga pernah. Tapi yang paling berkesan ya itu tadi, baru pertama masuk, masih bingung pengoperasian mobil damkar, semua otodidak,” ujarnya yang dilanjutkan menunjuk arah lokasi kebakaran tersebut.

Bekerja di lingkungan yang didominasi laki-laki tentu bukan tanpa tantangan.

Dari total 15 anggota di posnya, Ayu adalah satu-satunya perempuan.

Di awal masa kerja, ia kerap diragukan, bahkan sering tidak diikutsertakan turun ke lapangan.

“Pasti awal-awal sering diragukan. Dulu sering disuruh tunggu di sini saja, mereka yang ke lapangan. Tapi setelah ada pelatihan, sekarang tidak lagi. Kami semua ikut turun,” ujarnya.

Kini, ia telah membuktikan kemampuannya. Selama lebih dari satu dekade, ia terus bertahan dan berkontribusi dalam setiap penanganan.

Dalam praktiknya, Ayu memang lebih sering berada di tim pendukung saat pemadaman, seperti membawa selang nosel nomor dua atau tiga, sementara eksekutor utama berada di depan.

Namun dalam berbagai operasi lain, seperti evakuasi ular, pohon tumbang,atau sarang tawon, ia tetap turun langsung ke lapangan.

“Bukan berarti karena perempuan terus cuma dokumentasi, nggak juga. Kita tetap ikut,” katanya penuh percaya diri.

Bagi Ayu, profesi ini memberinya banyak pelajaran hidup.

Ia sering berhadapan dengan situasi mengharukan, melihat korban kehilangan rumah, harta benda, bahkan keluarga.

“Iya kami itu seolah-olah berada di situasi yang sama. Bingung, tapi tetap berusaha semaksimal mungkin membantu,” ucapnya lirih.

Di sisi lain, ia juga melihat bahwa perempuan memiliki keunggulan tersendiri dalam profesi ini, terutama dalam hal komunikasi.

Menurutnya, kehadiran perempuan kerap meredam emosi warga saat situasi memanas.

“Kalau sedikit terlambat saja, kami bisa diteriaki. Tapi kalau yang pertama turun perempuan, biasanya mereka tidak terlalu marah,” katanya sambil tersenyum.

Kini, selain sebagai pemadam kebakaran, Ayu juga menjalani peran sebagai ibu dan istri.

Ia memiliki satu anak yang kini duduk di bangku SMA.

Di momen peringatan Hari Kartini 2026, Ayu pun merefleksikan makna perjuangan R.A. Kartini bagi perempuan masa kini.

Menurutnya, tanpa perjuangan Kartini, perempuan mungkin tidak memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan dan pekerjaan.

“Kalau tidak ada Ibu Kartini, mungkin kami susah untuk kerja, susah untuk sekolah. Karena yang dianggap punya power itu laki-laki,” tegasnya.

Berkaca dari perjalanan hidupnya, Ayu berpesan agar perempuan berani mengambil risiko dan terus berkembang.

“Sebagai perempuan kita jangan lemah. Harus berani berjuang, berani ambil risiko, tapi tetap bertanggung jawab. Harus punya dedikasi, prestasi, dan keberanian menunjukkan diri kita,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya kemandirian sebagai perempuan yang tidak terlalu bergantung pada laki-laki.

“Kalau bisa laki-laki punya penghasilan satu, kita juga punya satu. Jadi saling menghargai,” tutupnya.