Reporter: Adi Kade | Editor: Bambang Irawan
PENAJAM - Musim kemarau 2026 diprediksi akan berdampak besar terhadap sektor pertanian dan perkebunan. Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa musim kemarau 2026 bakal lebih kering dan durasi lebih panjang.
Hal tersebut bakal mempengaruhi kelangsungan ketahanan pangan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Karena lahan pertanian di Benuo Taka masih mengandalkan sistem pengairan tadah hujan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila mengatakan, musim kemarau di tahun ini tidak hanya berpotensi menimbulkan bencana kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), juga bakal berdampak terhadap hasil panen petani.
“Musim kemarau di 2026 ini berpotensi menyebabkan hasil panen petani tidak optimal, bahkan terancam gagal panen. Apalagi saat ini curah hujan di PPU mulai menurun,” kata Nurlaila, Senin (27/4/2026).
Nurlaila menyatakan, BPBD segera berkoordinasi dengan Dinas Pertanian (Distan) dan Dinas Ketahanan Pangan (DKP) PPU untuk melakukan mitigasi terhadap risiko gagal panen sektor pertanian dan perkebunan akibat kemarau panjang.
“Sekarang yang paling penting adalah bagaimana kita melakukan mitigasi ketahanan pangan,” ujarnya.
BPBD PPU meminta seluruh kelurahan/desa untuk melakukan pemetaan embung dan sumber air yang ada di wilayahnya masing-masing untuk mengantisipasi terjadinya bencana kekeringan yang dapat berdampak terhadap hasil panen tanaman pangan.
“Kami meminta kelurahan/desa untuk memetakan potensi sumber air yang nantinya dapat digunakan untuk pengairan lahan pertanian maupun sebagai sumber air untuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya.


