Dinkes Samarinda Tekankan Pentingnya Deteksi Dini TBC dan HIV/AIDS, Masyarakat Wajib Tingkatkan Kesadaran

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Nata Siswanto. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Nata Siswanto. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Dinkes Samarinda Tekankan Pentingnya Deteksi Dini TBC dan HIV/AIDS, Masyarakat Wajib Tingkatkan Kesadaran

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Nata Siswanto. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Nata Siswanto. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Dinkes Samarinda Tekankan Pentingnya Deteksi Dini TBC dan HIV/AIDS, Masyarakat Wajib Tingkatkan Kesadaran

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Nata Siswanto. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA – Penyakit menular seperti Tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS masih menjadi perhatian serius pemerintah, termasuk di Kota Samarinda. Tingginya potensi penularan serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat membuat upaya pencegahan dan deteksi dini terus digencarkan, meski di tengah keterbatasan anggaran.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Nata Siswanto, mengatakan peningkatan temuan kasus justru menjadi indikator bahwa upaya skrining atau deteksi dini berjalan optimal. Setelah itu, dengan pengobatan yang tepat, jumlah kasus akan berangsur turun.

“Semakin intens kita melakukan deteksi dini, otomatis kasus yang ditemukan akan meningkat,” ujar Nata.

Ia menjelaskan, sepanjang 2025 pihaknya telah melakukan skrining terhadap sekitar 19 ribu hingga 20 ribu orang, dengan temuan sekitar 4.000 kasus TBC. Sementara untuk HIV/AIDS, tercatat sebanyak 492 kasus dalam periode yang sama.

Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa TBC dan HIV/AIDS masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat, sehingga diperlukan keterlibatan semua pihak dalam upaya penanggulangannya.

“Penanganan TBC tidak bisa hanya dilakukan oleh Dinas Kesehatan saja, tetapi harus melibatkan semua elemen masyarakat,” tegasnya.

Nata menambahkan, saat ini penanganan penyakit menular di Samarinda tetap mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan pemerintah pusat. Selain itu, dukungan lintas sektor juga mulai diperkuat, termasuk melalui inisiatif penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (raperda) tentang penanggulangan TBC.

Di sisi lain, ia mengakui adanya tantangan dalam pelaksanaan program, terutama terkait efisiensi anggaran yang berdampak pada keterbatasan Bahan Habis Pakai (BHP) untuk kegiatan skrining dan penanganan.

Meski demikian, Dinas Kesehatan memastikan program tetap berjalan dengan memaksimalkan sumber daya yang tersedia, termasuk melalui dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat.

Untuk itu, masyarakat diimbau agar lebih meningkatkan kesadaran terhadap bahaya penyakit menular, dengan melakukan pemeriksaan secara rutin, menjaga pola hidup sehat, serta tidak ragu untuk mengakses layanan kesehatan.

“Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang untuk sembuh dan mencegah penularan lebih luas,” pungkasnya.