Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan
NUNUKAN - Kenaikan harga sejumlah minyak goreng terjadi di Kabupaten Nunukan, menyusul kelangkaan minyak goreng subsidi pemerintah merek MinyaKita sepanjang April 2026. Terbatasnya pasokan dari Bulog disebut menjadi pemicu utama kondisi tersebut.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Nunukan, R Dior Frames, menjelaskan bahwa kekosongan stok MinyaKita telah berlangsung sejak pertengahan hingga akhir April. Hal ini berdampak langsung pada pergerakan harga minyak goreng non-subsidi di pasaran.
“Saat ini memang terjadi kelangkaan MinyaKita karena kuota dari Bulog belum tersedia,” ujar Dior.
Di tengah keterbatasan tersebut, harga minyak goreng non-subsidi mengalami kenaikan. Minyak goreng merek Viola ukuran 1,8 liter tercatat naik dari Rp37 ribu menjadi sekitar Rp40 ribu di tingkat distributor. Sementara itu, minyak goreng premium seperti Bimoli dan KunciMas juga mengalami kenaikan harga berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000.
Dior mengungkapkan, kenaikan harga ini tidak hanya dipengaruhi kelangkaan MinyaKita, tetapi juga oleh meningkatnya biaya distribusi. Kenaikan harga bahan bakar minyak, khususnya solar, berdampak pada ongkos angkut barang menuju Nunukan yang sebagian besar masih mengandalkan jalur laut.
“Kondisi geografis Nunukan yang bergantung pada distribusi laut membuat biaya logistik sangat berpengaruh terhadap harga barang, termasuk minyak goreng,” jelasnya.
Meski demikian, pemerintah daerah terus berupaya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok. Salah satunya dengan mengoptimalkan operasional Kios TPID yang tetap dibuka setiap hari sebagai sarana intervensi pasar.
Selain itu, DKUKMPP juga melakukan langkah pengendalian harga pada komoditas lain, seperti menggelar pasar murah untuk ayam segar bekerja sama dengan mitra kios. Dalam kegiatan tersebut, ayam dijual seharga Rp36 ribu per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga pasar yang mencapai Rp45 ribu per kilogram.
“Upaya ini dilakukan untuk membantu masyarakat sekaligus menjaga daya beli, serta mendukung peternak agar stok mereka tetap terserap,” tambah Dior.
Sementara itu, harga komoditas lain seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai dilaporkan masih relatif stabil. Pemerintah berharap kondisi ini dapat terus terjaga, terutama menjelang Iduladha 2026 mendatang.
DKUKMPP juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying, serta meminta distributor dan agen untuk tidak melakukan penimbunan maupun menaikkan harga secara sepihak.
“Distribusi barang melalui kapal swasta maupun Pelni masih berjalan lancar. Kami berharap semua pihak dapat menjaga stabilitas dengan berbelanja secara bijak dan saling mendukung,” harap Dior.


