Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mengakui jumlah armada pengangkut sampah saat ini masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan di lapangan.
Kondisi tersebut bahkan membuat sejumlah truk yang sudah tidak layak pakai tetap dioperasikan.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, mengatakan keterbatasan armada menjadi tantangan utama dalam pengangkutan sampah di Kota Tepian.
Ia menjelaskan, saat ini DLH memiliki sekitar 71 hingga 73 unit kendaraan pengangkut sampah, dengan dukungan sekitar 89 sopir. Namun, jumlah tersebut belum sebanding dengan kebutuhan, mengingat terdapat sekitar 83 titik Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang harus dilayani.
Bahkan, sebanyak 16 unit kendaraan digunakan secara bergantian oleh dua sopir atau sistem “double shift” untuk mengoptimalkan operasional.
Taufiq mengungkapkan, sebagian armada yang digunakan saat ini merupakan kendaraan lama, termasuk produksi tahun 2013 yang masih dioperasikan hingga sekarang. Kondisi tersebut membuat beberapa unit mengalami kerusakan, seperti badan truk yang mulai keropos.
“Karena keterbatasan, truk yang seharusnya sudah pensiun tetap kita gunakan. Tapi kalau ada kerusakan seperti bocor atau bolong, biasanya langsung dilaporkan untuk diperbaiki, ditambal atau dilas supaya tidak terjadi ceceran sampah,” kata Taufiq.
Dalam beberapa tahun terakhir, DLH sebenarnya telah melakukan penambahan armada secara bertahap. Pada 2025, misalnya, terdapat tambahan 10 unit truk, sementara pada 2024 sebanyak 8 unit, dan 2023 sebanyak 15 unit.
Namun, adanya efisiensi anggaran membuat rencana penambahan armada pada tahun ini belum dapat direalisasikan.
“Untuk tahun ini sementara belum ada penambahan, tapi kami tetap berupaya agar setiap tahun ada pengadaan, meski jumlahnya tidak besar,” ungkapnya.
Menurut Fajar, keberlanjutan pengadaan armada sangat penting untuk proses regenerasi kendaraan. Tanpa itu, biaya perawatan kendaraan tua justru menjadi lebih besar karena sering mengalami kerusakan.
Sebagai langkah antisipasi, DLH menerapkan strategi operasional dengan menyesuaikan rute kendaraan. Armada yang sudah tua diarahkan untuk melayani jarak lebih dekat ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sementara kendaraan yang lebih baru digunakan untuk rute yang lebih jauh dan berat.
“Kalau kendaraan lama dipaksakan jarak jauh, risikonya besar. Jadi kita atur supaya tetap bisa beroperasi dengan aman,” pungkasnya.


