Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan
TENGGARONG - Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus mempercepat pembukaan akses darat yang menghubungkan wilayahnya dengan Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Proyek ini difokuskan pada pembangunan badan jalan baru yang melintasi kawasan rawa dari Kecamatan Muara Kaman menuju Muara Ancalong.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menjelaskan bahwa pengerjaan badan jalan tersebut tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Proyek ini justru dilaksanakan melalui kolaborasi lima perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut.
“Kalau jalan Kabupaten Kukar-Kutai Timur, kita membentuk jalur baru di daerah Muara Kaman menuju Muara Ancalong. Tantangannya memang melewati rawa-rawa, namun pembangunan badan jalan ini tidak menggunakan APBD, melainkan digarap oleh lima perusahaan yang membagi ruas masing-masing sekitar dua hingga tiga kilometer,” ujarnya. Kamis (30/4/2026)
Menurutnya, panjang badan jalan yang sedang dikerjakan saat ini mencapai sekitar 12 kilometer. Sementara itu, sekitar 10 kilometer lainnya telah memiliki badan jalan dari pembangunan sebelumnya, sehingga tidak memerlukan pekerjaan ulang.
“Jadi total target panjang jalannya sekitar 20 kilometer. Yang dibangun sekarang sekitar 12 kilometer, sedangkan sekitar 10 kilometer lainnya sudah ada badan jalannya,” jelasnya.
Setelah tahap pembangunan badan jalan rampung, Pemkab Kukar akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk peningkatan kualitas jalan menjadi jalan mantap.
Aulia juga mengungkapkan bahwa rencana pembangunan jalur ini bukan hal baru. Gagasan tersebut telah muncul sejak masa kepemimpinan Bupati sebelumnya, Edi Damansyah. Namun, realisasinya sempat tertunda karena harus melalui proses perizinan kawasan hutan di tingkat pusat.
“Mimpi ini sebenarnya sudah lama sejak zaman Pak Edi Damansyah sebagai inisiator. Prosesnya cukup panjang karena melewati kawasan hutan, sehingga memerlukan perizinan dari Kementerian Kehutanan. Alhamdulillah sekarang izinnya sudah keluar semua,” ungkapnya.
Pemerintah daerah menargetkan pembangunan badan jalan sepanjang 12 kilometer tersebut dapat diselesaikan pada tahun 2026. Selanjutnya, pada 2027 akan dilanjutkan dengan pembangunan jalan rigid secara bertahap, menyesuaikan kemampuan anggaran.
Meski demikian, Aulia menegaskan bahwa penanganan jalan yang sudah ada tetap menjadi prioritas utama, terutama yang kondisinya rusak berat di sejumlah titik.
“Untuk kondisi sekarang, yang menjadi prioritas kita adalah jalan-jalan existing yang rusak, seperti di Sebelimbingan dan Tuana Tuha yang memang kondisinya sangat memprihatinkan. Setelah itu selesai, baru kita lanjutkan membuka jalur-jalur baru yang direncanakan,” tutupnya.


