Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan
NUNUKAN — Krisis air bersih mulai dirasakan warga Nunukan menyusul penurunan drastis volume air di Embung Bolong. Kondisi tersebut mendorong Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) turun tangan menyalurkan bantuan air bersih ke masyarakat terdampak.
Sejumlah unit mobil tangki milik Disdamkarmat dikerahkan untuk mendistribusikan air bersih ke wilayah Kecamatan Nunukan Selatan. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk respons cepat pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan dasar warga di tengah keterbatasan pasokan air.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disdamkarmat Nunukan, Wahyudi Kawariyin, mengatakan pendistribusian air bersih tersebut merupakan hasil koordinasi dengan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Taka Nunukan.
“Sekitar 40 ribu liter air bersih kami salurkan kepada warga yang terdampak. Dua unit mobil suplai kami turunkan dengan dukungan enam personel,” ujar Wahyudi.
Ia menjelaskan, bantuan air bersih ini difokuskan pada wilayah yang mengalami gangguan distribusi paling signifikan akibat menurunnya kapasitas produksi air dari sumber utama, yakni Embung Bolong.
Sementara itu, Direktur Perumda Tirta Taka Nunukan, Arpiansyah, mengungkapkan bahwa saat ini ketinggian air di Embung Bolong kian menurun. Kondisi ini dipicu oleh minimnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.
“Minimnya pasokan air di embung sangat memengaruhi kemampuan produksi air bersih. Oleh karena itu, kami masih menerapkan sistem distribusi bergilir atau zonasi, bahkan dengan cakupan wilayah yang diperluas,” jelasnya.
Menurutnya, langkah zonasi tersebut merupakan upaya agar distribusi air tetap merata di tengah keterbatasan pasokan air baku. Namun, ia tidak menampik bahwa kondisi ini berdampak langsung pada pelayanan kepada masyarakat.
Pemerintah daerah melalui berbagai pihak kini terus melakukan langkah antisipatif, termasuk penyaluran bantuan air bersih oleh Disdamkarmat, sambil memantau perkembangan kondisi embung.
Arpiansyah pun mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan bantuan air secara bijak dan tidak berlebihan, mengingat kondisi ketersediaan air masih terbatas.
“Kami harap masyarakat dapat menggunakan air seperlunya, sambil menunggu kondisi kembali normal,” katanya.
Penurunan volume air di Embung Bolong menjadi perhatian serius, mengingat embung tersebut merupakan salah satu sumber utama penyediaan air bersih bagi warga Nunukan.
"Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa adanya peningkatan curah hujan, dikhawatirkan krisis air akan meluas ke wilayah lainnya," pungkasnya.


