Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan
NUNUKAN – Dampak musim kemarau yang melanda Kabupaten Nunukan mulai dirasakan masyarakat, terutama terhadap menipisnya cadangan air di Embung Bolong yang menjadi sumber utama Perumda Air Minum Tirta Taka. Kondisi ini berdampak pada terbatasnya distribusi air bersih ke sejumlah wilayah.
Sebagai bentuk respons cepat, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Nunukan kembali menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak. Penyaluran dilakukan di kawasan Pangkalan Pos Angkatan Laut (Posal) Nunukan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdamkarmat Nunukan, Wahyudi Kawariyin, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya kolaboratif antara pihaknya dengan Perumda Tirta Taka dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar air bersih.
“Kami bersama PDAM Tirta Taka terus berupaya hadir di tengah masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih akibat kemarau. Pada hari ini, sekitar 25 ribu liter air berhasil kami distribusikan kepada warga di kawasan Posal,” ujar Wahyudi.
Ia menjelaskan, dalam proses distribusi tersebut, Disdamkarmat mengerahkan satu unit mobil pemadam kebakaran dengan dukungan empat personel. Penyaluran dilakukan sejak pagi hingga malam hari untuk memastikan seluruh warga yang membutuhkan dapat terlayani.
Wahyudi menambahkan, bantuan air bersih ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti memasak, mencuci, dan keperluan sanitasi lainnya.
“Semoga bantuan ini dapat sedikit membantu masyarakat dalam menghadapi keterbatasan air bersih. Kami akan terus melakukan pemantauan dan siap menyalurkan bantuan lanjutan jika diperlukan,” tambahnya.
Berdasarkan data Disdamkarmat Nunukan, hingga hari kelima pelaksanaan penyaluran air bersih, total distribusi telah mencapai sekitar 100 ribu liter. Kegiatan ini akan terus dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi di lapangan serta kebutuhan masyarakat terdampak.
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak selama musim kemarau berlangsung, guna mengantisipasi krisis air bersih yang lebih luas.


