Disdikbud Balikpapan Minta Kemendikdasmen Tambah Formasi Guru BK di Tengah Lonjakan Kasus Siswa

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Disdikbud Balikpapan, Irfan Taufik. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Kepala Disdikbud Balikpapan, Irfan Taufik. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Disdikbud Balikpapan Minta Kemendikdasmen Tambah Formasi Guru BK di Tengah Lonjakan Kasus Siswa

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Disdikbud Balikpapan, Irfan Taufik. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Kepala Disdikbud Balikpapan, Irfan Taufik. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Disdikbud Balikpapan Minta Kemendikdasmen Tambah Formasi Guru BK di Tengah Lonjakan Kasus Siswa 

Kepala Disdikbud Balikpapan, Irfan Taufik. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Keterbatasan jumlah guru Bimbingan dan Konseling (BK) di Kota Balikpapan menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), seiring meningkatnya kompleksitas persoalan yang dihadapi siswa di lingkungan sekolah.

Kepala Disdikbud Balikpapan, Irfan Taufik menegaskan bahwa peran guru BK saat ini semakin krusial, tidak hanya dalam mendampingi masalah akademik, tetapi juga menangani berbagai persoalan sosial seperti perundungan hingga kekerasan seksual.

"Artinya, kebutuhan guru BK kita masih sangat besar," ucap Irfan, Minggu (3/5/2026).

Ia mengungkapkan, dari sekitar 600 sekolah di Balikpapan mulai dari jenjang PAUD hingga SMA, jumlah tenaga guru BK masih jauh dari kata cukup. 

Kondisi ini dinilai menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan, terlebih di tengah perkembangan teknologi informasi dan dinamika sosial yang semakin kompleks.

Menurutnya, keterbatasan tersebut berdampak langsung pada optimalisasi pendampingan siswa. 

Guru BK yang ada harus menangani banyak kasus sekaligus, mulai dari masalah perilaku hingga tekanan psikologis yang dialami siswa.

"Persoalan siswa sekarang semakin kompleks, bukan hanya soal belajar, tapi juga terkait media sosial, pergaulan, sampai kekerasan di lingkungan sekolah," jelasnya.

Selain itu, Irfan juga menyoroti munculnya kasus kekerasan seksual yang melibatkan oknum tenaga pendidik. 

Ia menyebut, sepanjang 2026 terdapat sejumlah laporan yang saat ini masih dalam proses pembuktian.

"Di satu sisi kita harus melindungi siswa, tetapi di sisi lain guru juga membutuhkan perlindungan hukum yang jelas agar tidak selalu berada dalam posisi rentan saat menjalankan tugas pendidikan," katanya.

Ia menilai, meskipun regulasi terkait perlindungan guru telah tersedia, implementasinya di lapangan belum maksimal. 

Kondisi ini membuat banyak guru merasa berada dalam posisi dilematis saat menjalankan tugasnya.

"Guru sekarang serba salah. Menegur takut dilaporkan, bertindak takut dianggap melanggar. Ini juga menjadi beban besar, khususnya bagi guru BK yang setiap hari berhadapan langsung dengan persoalan siswa," ujarnya.

Irfan menambahkan, sebagian besar guru BK saat ini merupakan perempuan yang memiliki kepekaan tinggi dalam mendampingi siswa. 

Namun, tanpa dukungan kebijakan dan penambahan tenaga, beban kerja mereka akan semakin berat.

Ia pun berharap pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dapat memberikan perhatian serius terhadap kekurangan guru BK di daerah, termasuk Balikpapan.

"Guru BK adalah garda terdepan dalam menjaga kesehatan mental, karakter, dan masa depan anak-anak kita. Mereka tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri," pungkasnya. (Adv Diskominfo Kota Balikpapan)