Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - Transformasi digital di sektor pendidikan di Kota Balikpapan tidak hanya berhenti pada pelatihan teknologi bagi guru, tetapi mulai diarahkan pada pembangunan ekosistem pendidikan yang adaptif dan inklusif.
Ini terlihat dari langkah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan yang mengintegrasikan peningkatan kompetensi digital dengan kebijakan jangka panjang di bidang pendidikan.
Kepala Disdikbud Balikpapan, Irfan Taufik mengungkapkan bahwa pelatihan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang diikuti lebih dari 2.000 guru menjadi pintu masuk perubahan pola pembelajaran di sekolah.
Program tersebut bahkan mendapat apresiasi dari Google karena dinilai mampu meningkatkan kapasitas tenaga pendidik secara signifikan.
"Program ini melibatkan lebih dari 2.000 guru secara bersamaan dengan hasil capaian yang cukup baik. Ini menjadi salah satu inisiatif yang mendapat perhatian khusus," ucap Irfan, Minggu (3/5/2026).
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari itu menyasar guru SD hingga SMP, dengan materi pemanfaatan teknologi melalui platform Google for Education yang terintegrasi dengan Gemini.
Melalui pendekatan ini, guru didorong tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam pembelajaran yang lebih interaktif dan relevan dengan kebutuhan siswa.
Namun, Irfan menegaskan bahwa transformasi pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi.
Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan juga menyiapkan kebijakan strategis, salah satunya penerapan wajib belajar 13 tahun yang ditargetkan mulai berjalan pada 2027.
"Kami mulai sosialisasi di 2026, karena PAUD menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan kemampuan dasar anak," jelasnya.
Selain itu, Disdikbud juga memperkuat budaya literasi melalui program "Balikpapan Cinta Literasi" yang akan disebarluaskan dalam bentuk video di ruang-ruang publik.
Program ini diharapkan mampu meningkatkan minat baca sekaligus memperluas akses literasi di tengah masyarakat.
Tidak hanya fokus pada aspek akademik dan teknologi, pendekatan inklusivitas juga mulai diperkuat.
Dalam berbagai kegiatan sekolah, termasuk upacara, siswa dari berbagai jenjang, termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB), dilibatkan sebagai petugas.
"Langkah ini kami nilai sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan diri sekaligus memperkuat nilai inklusivitas di lingkungan pendidikan," katanya.
Dengan kombinasi antara digitalisasi, penguatan karakter, dan inklusivitas, Disdikbud Balikpapan berupaya membentuk sistem pendidikan yang tidak hanya modern, tetapi juga berimbang.
Transformasi ini diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat dan mampu beradaptasi di tengah perubahan zaman. (Adv Diskominfo Kota Balikpapan)


