Angkat Budaya Lokal, Batik Kedang Ipil Mulai Dilirik

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Batik khas Desa Kedang Ipil (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)
Batik khas Desa Kedang Ipil (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Angkat Budaya Lokal, Batik Kedang Ipil Mulai Dilirik

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Batik khas Desa Kedang Ipil (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)
Batik khas Desa Kedang Ipil (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Angkat Budaya Lokal, Batik Kedang Ipil Mulai Dilirik

Batik khas Desa Kedang Ipil (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin

TENGGARONG - Upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi masyarakat mulai tumbuh di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Kelompok perajin setempat kini memperkenalkan batik khas daerah yang mengusung motif budaya lokal sebagai identitas utama.

Penggerak kelompok batik Kedang Ipil, Rusna menyampaikan, batik yang dihasilkan mengadaptasi unsur budaya setempat, mulai dari motif dedaunan hingga simbol-simbol adat yang biasa digunakan dalam ritual belian. Keunikan ini menjadi pembeda dibandingkan batik dari daerah lain.

“Kami mengangkat motif khas Kedang Ipil yang biasa dipakai dalam kegiatan adat. Itu yang menjadi ciri utama batik kami,” katanya. Selasa (5/5/2026)

Seiring berkembangnya produksi, jumlah perajin yang terlibat juga meningkat signifikan. Dari sekitar 30 orang saat awal pembentukan, kini telah mencapai kurang lebih 60 perajin.

Dalam prosesnya, satu lembar kain batik dapat diselesaikan dalam waktu satu hari, selama tidak ada kendala pada bahan maupun peralatan.

Untuk pemasaran, batik Kedang Ipil dibanderol sekitar Rp800 ribu per lembar dengan panjang dua meter. Harga tersebut masih dalam tahap promosi mengingat produk baru mulai diperkenalkan ke pasar. Seluruh batik dibuat menggunakan kain katun dengan teknik batik tulis.

Meski masih dalam tahap awal, produk ini mulai menarik perhatian pasar luar daerah. “Sudah ada pesanan dari luar, salah satunya dari instansi di Samarinda,” ujar Rusna.

Namun, pengembangan usaha ini belum sepenuhnya berjalan mulus. Keterbatasan peralatan produksi seperti kompor, lilin dan bahan pewarna masih menjadi tantangan utama.

Kini, kebutuhan tersebut sebagian besar dipenuhi secara swadaya serta dukungan dari pihak adat. Dari sisi pemasaran, penjualan masih dilakukan secara terbatas melalui media sosial dan pameran lokal. Kelompok perajin juga belum menjangkau pameran di luar daerah karena masih fokus pada tahap pengembangan awal.

Ke depan, para perajin berharap batik Kedang Ipil dapat menjadi produk unggulan desa yang tidak hanya memperkuat ekonomi masyarakat, tetapi juga menjaga kelestarian budaya lokal. “Kami ingin batik ini tidak hanya dikenal di sini, tetapi juga bisa dikenal lebih luas,” ujarnya.