Banner ADV

Pantai Derawan Kian Menyusut, Anggaran Rp20 Miliar Tak Terserap

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Pantai di Derawan yang mengalami penyusutan akibat abrasi. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Pantai di Derawan yang mengalami penyusutan akibat abrasi. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Pantai Derawan Kian Menyusut, Anggaran Rp20 Miliar Tak Terserap

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Pantai di Derawan yang mengalami penyusutan akibat abrasi. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Pantai di Derawan yang mengalami penyusutan akibat abrasi. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Pantai Derawan Kian Menyusut, Anggaran Rp20 Miliar Tak Terserap

Pantai di Derawan yang mengalami penyusutan akibat abrasi. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Anggota DPRD Berau, Abdul Waris menyoroti kondisi pantai di kawasan Pulau Derawan yang terus mengalami penyusutan akibat abrasi. 

Meski infrastruktur telekomunikasi di wilayah tersebut mulai membaik dengan pemasangan bandwidth, persoalan menyempitnya garis pantai justru menjadi ancaman baru bagi keberlanjutan kawasan wisata unggulan itu.

Menurut Waris, perhatian terhadap pengamanan pantai sebenarnya sudah lama menjadi komitmen bersama, termasuk dari DPRD.

Bahkan, anggaran untuk pembangunan pelindung pantai sempat dialokasikan dalam APBD.

“Secara komitmen, kami di dewan sudah mendukung penuh. Pada 2025 bahkan sudah dianggarkan sekitar Rp20 miliar untuk pengaman pantai,” ujarnya.

Namun, rencana tersebut tidak bisa direalisasikan. Waris menjelaskan, kendala utama terletak pada belum siapnya aspek teknis dari instansi terkait, khususnya dari dinas teknis.

Kajian lingkungan dan perizinan yang menjadi syarat utama proyek belum rampung saat anggaran disahkan.

“Seharusnya sebelum proyek besar dijalankan, kajian seperti AMDAL dan teknisnya sudah siap. Ini justru dibalik, anggaran sudah ada tapi kajian belum selesai, akhirnya tidak bisa dijalankan,” tegasnya.

Akibatnya, anggaran yang sudah disiapkan tersebut menjadi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA).

Kondisi ini dinilai merugikan karena belum tentu anggaran serupa bisa kembali dialokasikan di tahun berikutnya, terlebih di tengah kondisi keuangan daerah yang sedang mengalami tekanan.

Waris menambahkan, peluang penganggaran ulang juga semakin kecil mengingat banyaknya kebutuhan belanja daerah yang harus diprioritaskan.

Kini, belanja operasional daerah mencapai sekitar Rp1,43 triliun, belum termasuk kewajiban anggaran lainnya.

“Ini yang jadi dilema. Kebutuhan pengaman pantai itu penting, tapi kemampuan anggaran kita juga harus realistis. Apalagi sekarang kita sedang menghadapi defisit,” jelasnya.

Ia berharap ke depan, perencanaan proyek-proyek strategis dapat dilakukan lebih matang. Dengan begitu, program yang telah dirancang tidak kembali gagal hanya karena persoalan administratif dan teknis.

Di sisi lain, Waris mengingatkan bahwa abrasi yang terus terjadi di Derawan tidak bisa dianggap sepele.

Selain mengancam ekosistem pesisir, kondisi ini juga berpotensi berdampak pada sektor pariwisata yang menjadi andalan daerah.

“Kalau pantainya terus berkurang, tentu ini akan berpengaruh pada daya tarik wisata. Ini harus segera ditangani dengan serius,” pungkasnya. (Adv)