Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA — Prediksi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung mulai Juni hingga Agustus 2026 membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai menyiapkan langkah antisipasi, khususnya pada sektor pertanian yang rentan terdampak kekeringan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapang Tani) Samarinda, Muhammad Darham, mengatakan beberapa wilayah pertanian yang kerap terdampak saat musim kemarau berada di kawasan Makroman dan Sambutan.
“Kalau di kawasan Samarinda Utara alhamdulillah masih terbantu suplai hujan dari arah Muara Badak, sehingga ketersediaan air cukup membantu,” kata Darham.
Dalam rentang waktu kemarau tersebut, petani di Samarinda sudah mulai memasuki masa tanam padi. Ini sejalan dengan program pemerintah yang menargetkan peningkatan produktivitas pertanian melalui pola tanam 2,5 kali panen dalam setahun.
“Sekarang sudah masuk masa tanam. Program pemerintah menargetkan 2,5 kali panen, dengan pola 30 hari setelah semai,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi gangguan produksi akibat kemarau, pihaknya juga fokus pada pembenahan sistem irigasi sawah, khususnya di wilayah Makroman yang sempat terdampak persoalan aliran air.
Darham menjelaskan, persoalan utama di kawasan tersebut bukan semata kekurangan sumber air, melainkan tersumbatnya saluran irigasi akibat tanaman liar dan kurangnya perawatan.
Ia menyebut persoalan tersebut telah dikoordinasikan bersama kelompok tani dan saat ini penanganannya juga melibatkan Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP).
“Ada tanaman-tanaman yang tumbuh dan belum sempat dilakukan gotong royong pembersihan, termasuk adanya cabang aliran yang menghambat,” katanya.
Di tengah ancaman musim kemarau, Ketapang Tani juga belum memprioritaskan perluasan lahan pertanian baru. Pemerintah saat ini lebih fokus pada optimalisasi lahan yang sudah ada agar tetap produktif.
Adapun sejumlah wilayah yang dinilai masih potensial untuk pengembangan pertanian di Samarinda meliputi Samarinda Utara, Sambutan, Makroman, serta sebagian kawasan Palaran.
Pemerintah berharap kesiapan infrastruktur pertanian dan koordinasi dengan petani dapat meminimalkan dampak musim kemarau terhadap produksi pangan di Kota Samarinda.
“Untuk perluasan ada kemungkinan, tapi sementara kita utamakan optimalisasi dulu. Karena menanam padi juga ada masa istirahat lahannya,” pungkasnya.


