Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan
TENGGARONG - Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan kondisi inflasi daerah masih dalam batas aman. Hal ini disampaikan Sekretaris Daerah Kukar, Sunggono, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kukar.
Ia menyebutkan, meski data terbaru masih dalam proses pembaruan, tren inflasi di Kukar secara umum tetap terkendali dan berada di bawah ambang batas yang ditetapkan.
“Secara keseluruhan, inflasi kita masih di bawah 3 persen,” ujarnya Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, pola kenaikan harga di Kukar cenderung berulang setiap bulan. Faktor utama yang memicu inflasi masih didominasi oleh pergerakan harga sejumlah bahan pangan pokok.
Komoditas seperti daging ayam, ikan, cabai, dan bawang merah menjadi penyumbang utama fluktuasi inflasi di daerah tersebut.
“Komoditas itu yang paling sering memengaruhi pergerakan inflasi. Hampir setiap bulan polanya relatif sama, hanya berbeda pada komoditas tertentu,” jelasnya.
Sunggono juga menanggapi isu pelemahan nilai tukar rupiah yang belakangan menjadi perhatian. Ia menilai, dampaknya terhadap inflasi di Kukar relatif kecil karena mayoritas komoditas yang memengaruhi harga berasal dari dalam daerah.
“Fluktuasi nilai tukar biasanya hanya jangka pendek. Selain itu, sebagian besar bahan pemicu inflasi di Kukar bukan berasal dari luar negeri, sehingga pengaruhnya tidak terlalu besar,” katanya.
Meski demikian, ia tidak menampik adanya potensi dampak pada komoditas tertentu yang masih bergantung pada impor, seperti kedelai.
“Kalau komoditas seperti kedelai, itu memang impor. Jadi kalau nilai tukar dolar naik, bisa berpengaruh cukup signifikan,” tambahnya.
Untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, Pemkab Kukar terus mengintensifkan program Gerakan Pangan Murah (GPM). Program ini dinilai efektif dalam menekan laju inflasi di tingkat lokal.
“GPM tetap kita laksanakan. Dari laporan terakhir, kegiatan ini terus berjalan untuk membantu menekan inflasi,” tutupnya.


