Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin
NUNUKAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) pada April 2026 sebesar 3,67 persen.
Angka tersebut dinilai masih berada dalam kategori terkendali, meski sejumlah komoditas utama mengalami kenaikan harga dan memberi tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Kepala BPS Nunukan, Iskandar Ahmadien mengatakan inflasi tahunan terjadi seiring meningkatnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,1 pada April 2025 menjadi 109,07 pada April 2026.
“Secara umum inflasi di Kabupaten Nunukan masih terkendali pada level 3,67 persen secara tahunan. Tapi, terdapat beberapa komoditas yang memberikan andil cukup besar terhadap pembentukan inflasi,” ujarnya.
Menurut Iskandar, kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan tertinggi berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi sebesar 8,94 persen.
Sementara kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami kenaikan sebesar 5,57 persen.
Ia menjelaskan, emas perhiasan menjadi komoditas penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan dengan andil sebesar 0,44 persen.
Selain itu, sejumlah komoditas pangan dan konsumsi rumah tangga seperti nasi dengan lauk, beras dan tomat juga memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan harga secara umum.
“Komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi tahunan. Selain itu, nasi dengan lauk, beras dan tomat turut memberikan andil dalam pembentukan inflasi di Kabupaten Nunukan,” jelasnya.
BPS juga menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, daging ayam ras, dan telur ayam ras yang dinilai berdampak langsung terhadap pengeluaran masyarakat sehari-hari.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sektor pangan masih menjadi komponen utama pembentuk inflasi daerah.
Meski secara tahunan terjadi inflasi, Kabupaten Nunukan justru mengalami deflasi secara bulanan atau month-to-month (m-to-m) sebesar 0,36 persen pada April 2026.
Deflasi ini menunjukkan adanya penurunan harga pada sejumlah komoditas dibandingkan bulan sebelumnya.
“Terjadinya deflasi secara bulanan menjadi indikasi bahwa terdapat pergerakan harga yang relatif stabil dalam jangka pendek, meskipun secara tahunan tetap terjadi inflasi,” tambah Iskandar.
Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) hingga April 2026 tercatat sebesar 1,62 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa akumulasi kenaikan harga sejak awal tahun masih berada pada level yang relatif terkendali.
BPS berharap pemerintah daerah terus memperkuat langkah pengendalian inflasi, terutama pada sektor pangan yang memiliki kontribusi besar terhadap pembentukan inflasi daerah.
Stabilitas harga bahan pokok dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
“Pengendalian inflasi, khususnya pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, perlu menjadi perhatian bersama agar stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga,” pungkasnya.


