Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan
SANGATTA – Data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menjadi sorotan setelah ditemukan dugaan ketidaksinkronan antara catatan administrasi dengan kondisi riil di lapangan.
Ribuan anak masih tercatat dalam daftar ATS, namun sebagian di antaranya diduga sudah tidak berada di Kutim karena mengikuti perpindahan orang tua ke daerah lain.
Persoalan administrasi kependudukan yang belum diperbarui disebut menjadi penyebab utama data tersebut belum berubah.
Kondisi itu membuat angka ATS di Kutim bertahan di kisaran 10 ribu anak. Padahal, pemerintah daerah mengklaim sebagian anak yang masuk dalam daftar tersebut sebenarnya masih mengakses pendidikan di luar wilayah Kutim.
Untuk memastikan validitas data, pemerintah daerah kini melakukan penyisiran ulang hingga tingkat desa dengan melibatkan aparat RT dan Tim Penggerak PKK.
Verifikasi lapangan dilakukan guna membedakan anak yang benar-benar putus sekolah dengan mereka yang hanya belum tercatat pindah domisili.
Sebelumnya, jumlah ATS di Kutim sempat berada di angka lebih dari 13 ribu anak. Setelah dilakukan pendataan awal, angka tersebut turun menjadi sekitar 10 ribu anak.
Namun proses validasi masih terus berjalan karena pemerintah menilai masih banyak data yang perlu dicocokkan kembali.
Selain persoalan administrasi, pemerintah daerah juga mulai menelusuri faktor lain yang memicu anak tidak bersekolah, seperti kondisi ekonomi keluarga hingga rendahnya kesadaran pendidikan di sebagian masyarakat.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman menyebut pembaruan data ATS terus dilakukan melalui koordinasi lintas sektor agar hasil pendataan lebih akurat.
“Pembaruan data terus dilakukan melalui Dinas Pendidikan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari PKK hingga aparat RT di tingkat desa agar data ATS ini lebih akurat,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, mobilitas penduduk menjadi tantangan tersendiri dalam proses pendataan ATS di Kutim.
“Ada yang sebenarnya sekolah, tapi tidak lagi di tempatnya karena ikut orang tua pulang kampung. Namun datanya masih tercatat di sini (Kutim),” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa ketersediaan sekolah di Kutim dinilai sudah cukup merata hingga ke wilayah pedalaman dan desa.
“Sekolah kita sudah ada di mana-mana, sampai ke desa-desa. Tinggal kita cari tahu kenapa mereka tidak sekolah,” pungkasnya.


