Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin
TENGGARONG - Perusda Tunggang Parangan menunjukkan tren positif setelah sempat dibayangi kerugian besar akibat persoalan lama perusahaan.
Badan usaha milik daerah milik Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar) ini kini berhasil meraih predikat “BUMD Sehat” kategori AA dengan skor 90,9 persen dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kaltim berdasarkan penilaian kinerja 2024.
Direktur Utama Perusda Tunggang Parangan, Awang Muhammad Luthfi mengungkapkan, kondisi perusda saat dirinya mulai memimpin pada 2022 masih dalam situasi berat dengan catatan kerugian mencapai puluhan miliar rupiah.
“2021 itu kondisi perusahaan masih minus puluhan miliar. Tapi Alhamdulillah, di tahun pertama perlahan mulai positif, kemudian 2022 sudah bisa menghasilkan PAD,” ujar Awang kepada awak media, Jumat (7/5/2026).
Ia mengatakan proses pemulihan dilakukan tanpa tambahan penyertaan modal dari pemerintah daerah. Untuk menjaga roda usaha tetap berjalan, perusahaan memilih membangun kemitraan strategis, terutama di sektor jasa maritim Sungai Mahakam.
Melalui pola kerja sama bagi hasil, perusahaan tidak dibebani kebutuhan modal besar untuk operasional kapal maupun bahan bakar. “Kami ini kerja sama tanpa modal. Jadi harus mencari mitra yang punya pendanaan untuk operasional pemanduan dan tunda kapal,” jelas Awang.
Meski kondisi keuangan mulai membaik, sebagian besar pendapatan perusahaan masih dialokasikan untuk menyelesaikan berbagai kewajiban lama. Mulai dari utang pajak, kerugian perdata, hingga pembayaran pesangon pegawai yang tertunda sejak kepengurusan sebelumnya.
Menurut Awang, beban tersebut membuat persentase pengeluaran perusahaan menjadi cukup tinggi.
“Kalau idealnya biaya operasional sekitar 23 persen dari pendapatan, di kami bisa sampai 45 hingga 52 persen. Tapi itu bukan operasional, melainkan untuk membayar pesangon, utang pajak, dan kewajiban lama lainnya,” katanya.
Namun demikian, ia memastikan tata kelola perusahaan kini jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu. Efisiensi dan transparansi disebut menjadi fokus utama dalam pembenahan internal perusahaan.
Perusda Tunggang Parangan bahkan menjalankan struktur organisasi sederhana dengan hanya satu direktur tanpa banyak jabatan manajerial tambahan.
“Semua informasi kami sajikan secara transparan, bahkan bisa dilihat di website. Prinsip kami survive, efisien, optimal, dan kreatif,” ujarnya.
Saat ini, bisnis utama perusahaan masih bertumpu pada sektor maritim, khususnya layanan tunda kapal di Sungai Mahakam yang dijalankan bersama Pelindo. Selain itu, perusahaan juga bergerak di bidang jasa kepelabuhanan, bongkar muat, hingga usaha pendukung seperti penjualan sembako dan telur.
Awang menegaskan pihaknya belum berfokus pada ekspansi besar-besaran karena prioritas utama masih pada penguatan fondasi usaha yang sudah berjalan.
“Posisi kami masih recovery. Jadi fokus kami menyehatkan usaha yang sudah ada dulu,” katanya.
Meski demikian, pengembangan usaha perlahan mulai dilakukan hingga ke wilayah Kota Bangun dan direncanakan terus berkembang di sepanjang aliran Sungai Mahakam.
Predikat “BUMD Sehat” yang diraih perusahaan disebut menjadi hasil dari proses penataan dan pembenahan yang dijalankan dalam tiga tahun terakhir. Dengan skor di atas 90 persen, BPKP menilai perusahaan memiliki tata kelola yang sehat, bersih, transparan, serta sesuai regulasi.
Awang juga menyebut efisiensi operasional menjadi salah satu capaian penting perusahaan saat ini.
“Kalau dikatakan operasionalnya sangat efisien, memang operasional kami sangat efisien. Pencapaian kami juga sangat optimal, di mana operasional kami hanya berkisar 35 persen dari pendapatan,” ujarnya.
Saat ini, pendapatan kotor Perusda Tunggang Parangan disebut telah mencapai sekitar Rp32 miliar per tahun dan dinilai melampaui target awal pemulihan perusahaan.
“Itu luar biasa bisa kami capai hingga saat ini,” pungkas Awang.


