Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA — Sebagian besar petani di Kota Samarinda telah menyelesaikan panen padi musim ini.
Namun, cuaca yang tidak menentu dan minimnya pasokan air kini menjadi ancaman bagi para petani untuk kembali memulai masa tanam.
Meski dalam beberapa waktu terakhir hujan sempat mengguyur sejumlah wilayah di Samarinda, kondisi tersebut belum cukup membantu mengisi lahan persawahan yang mulai mengering.
Akibatnya, petani terpaksa menunda penyebaran bibit padi sambil menunggu ketersediaan air mencukupi.
Salah satu petani di Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, Pariyem mengaku kondisi cuaca panas yang terjadi belakangan ini cukup berdampak terhadap aktivitas pertanian mereka.
“Kalau belum panen terus kering seperti ini susah mau tanam. Nunggu air dulu,” kata Pariyem saat ditemui di sawahnya, Jumat (9/5/2026).
Menurutnya, kemungkinan besar petani belum dapat kembali menanam dalam waktu dekat.
Bahkan, ia memperkirakan musim tanam baru kemungkinan masih tertunda hingga setelah Iduladha.
“Belum, masih jauh kayaknya ini. Paling lebaran haji juga belum,” ungkapnya.
Pariyem menyebut para petani di wilayah tersebut umumnya hanya bisa panen dua kali dalam setahun.
Ketersediaan air menjadi faktor utama yang menentukan keberlangsungan masa tanam.
Untuk memenuhi kebutuhan air sawah, petani mengandalkan aliran air yang berada di kawasan area persawahan berupa parit kecil.
Air tersebut kemudian disedot menggunakan mesin alkon dan pompa air berbahan bakar bensin.
“Kadang sehari habis lima liter bensin, kadang tujuh liter. Tidak tentu juga,” sebutnya.
Kondisi tersebut membuat biaya produksi pertanian semakin tinggi. Selain harus membeli bahan bakar untuk pompa air, petani juga masih menanggung biaya sewa tenaga dan traktor saat mengolah lahan.
“Kalau traktor kita bayar. Kemarin tiga petak itu lima ratus ribu,” jelasnya.
Meski demikian, Pariyem mengaku masih mendapat bantuan dari kelompok tani berupa pupuk dan obat-obatan pertanian.
“Alhamdulillah pupuk dapat, obat-obatan juga dapat. Tapi kalau traktor bayar sendiri,” ucapnya.
Perempuan yang telah mengelola sawah sejak puluhan tahun lalu itu juga menceritakan tantangan lain yang kerap dihadapi petani, yakni banjir.
Saat debit air meningkat dan merendam tanaman padi yang mulai berisi, petani berisiko mengalami gagal panen.
Para petani kini hanya berharap hujan turun lebih merata agar lahan sawah kembali memiliki cukup air untuk memulai musim tanam berikutnya.
"Kalau yang lain semai padi ya kita ikut juga, jadi masih belum tau kapan," pungkasnya.


