Nobar “Pesta Babi” di Unikarta, Mahasiswa bersama Jurnalis Soroti Isu Lingkungan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Nobar “Pesta Babi” di Unikarta. (Foto: Aswin/Pusaranmedia.com)
Nobar “Pesta Babi” di Unikarta. (Foto: Aswin/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Nobar “Pesta Babi” di Unikarta, Mahasiswa bersama Jurnalis Soroti Isu Lingkungan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Nobar “Pesta Babi” di Unikarta. (Foto: Aswin/Pusaranmedia.com)
Nobar “Pesta Babi” di Unikarta. (Foto: Aswin/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Nobar “Pesta Babi” di Unikarta, Mahasiswa bersama Jurnalis Soroti Isu Lingkungan

Nobar “Pesta Babi” di Unikarta. (Foto: Aswin/Pusaranmedia.com)

Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan

TENGGARONG - Wahana Mahasiswa Pecinta Alam (Wamapala) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) bersama Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kutai Kartanegara kembali menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi, Kolonialisme di Zaman Kita di Kecamatan Tenggarong, Sabtu (9/5/2026) malam.

Kegiatan berlangsung sederhana di area food court Unikarta. Dengan layar putih, proyektor, speaker, serta suguhan rebusan dan kopi, para peserta menyaksikan film berdurasi 90 menit yang menggambarkan perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan menghadapi dampak ekologis dari proyek-proyek pembangunan berskala besar.

Film karya jurnalis investigatif senior Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale itu mengangkat kisah masyarakat adat yang berupaya mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi proyek pangan dan transisi energi.

Ketua Wamapala Unikarta, Almadani, berharap pemutaran film tersebut dapat menjadi ruang refleksi bagi generasi muda agar lebih peduli terhadap persoalan lingkungan.

Menurutnya, isu ekologis kini bukan lagi persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat Kukar. Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan demi generasi mendatang.

“Semoga melalui nobar ini seluruh pemuda di Kukar dapat lebih peduli terhadap isu lingkungan,” tuturnya.

Ketua SMSI Kukar, Angga Triandi, menyatakan dukungannya terhadap kegiatan yang diinisiasi mahasiswa tersebut. Ia menilai isu yang diangkat dalam film memiliki keterkaitan dengan kondisi di sejumlah daerah, termasuk di Kukar.

“Seperti di sekitar IKN, masyarakat menyebut program belum memberikan solusi terhadap masyarakat yang terdampak. Di Kecamatan Kota Bangun Darat juga masyarakat adat menyuarakan terkait wilayah pangan dan lahan adat yang dikelilingi konsesi tambang,” ujarnya.

Angga menambahkan, pers memiliki peran penting sebagai kontrol sosial, khususnya dalam mengawal isu lingkungan dan menyuarakan aspirasi masyarakat terdampak.

“Karena pada dasarnya ini adalah tugas kita sebagai penyambung lidah masyarakat melalui produk jurnalistik kita,” tegasnya.

Setelah pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi santai antara mahasiswa dan jurnalis. Beragam pandangan mengemuka terkait hubungan antara pembangunan, lingkungan, dan hak masyarakat adat.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unikarta, Zulkarnain, menilai film tersebut menjadi pengingat bahwa alam merupakan hak masyarakat yang tidak semestinya dikorbankan demi kepentingan segelintir pihak.

“Ironis jika apa yang menjadi hak masyarakat justru diambil guna menguntungkan segelintir orang,” bebernya.

Pandangan serupa disampaikan wartawan muda Komparasinews.id, Habib Fajar Saputra. Warga Samboja itu menilai pesan yang disampaikan dalam film dapat menjadi cerminan bagi masyarakat Kukar.

“Apa yang terjadi di Papua bisa saja terjadi di kita. Maka kita mesti membuka lagi wawasan kita untuk terus sadar dan peduli terhadap lingkungan kita dan mengontrol semua kebijakan pemerintah,” pintanya.

Melalui nobar tersebut, mahasiswa dan insan pers di Kukar ingin menegaskan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya isu milik daerah tertentu. Dari Papua hingga Kalimantan, suara mengenai tanah, ruang hidup, dan keberlanjutan terus mencari ruang untuk didengar.