Banner ADV

DPRD Berau Dorong Pembentukan TRC Khusus Tangani Korban Kekerasan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Wakil Ketua ll DPRD Berau, Sumadi. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)
Wakil Ketua ll DPRD Berau, Sumadi. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

DPRD Berau Dorong Pembentukan TRC Khusus Tangani Korban Kekerasan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Wakil Ketua ll DPRD Berau, Sumadi. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)
Wakil Ketua ll DPRD Berau, Sumadi. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

DPRD Berau Dorong Pembentukan TRC Khusus Tangani Korban Kekerasan

Wakil Ketua ll DPRD Berau, Sumadi. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Berau mendapat perhatian serius dari Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi. 

Ia meminta pemerintah daerah melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) untuk segera membentuk Tim Reaksi Cepat (TRC).

Menurutnya, keberadaan tim tersebut sangat dibutuhkan agar penanganan terhadap korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) maupun kekerasan seksual terhadap anak dapat dilakukan lebih cepat dan terarah.

Ia menilai, korban kekerasan kerap membutuhkan pendampingan secara langsung, baik dari sisi perlindungan hukum maupun pemulihan psikologis. Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu memiliki tim khusus yang siap bergerak ketika ada laporan dari masyarakat.

“Korban harus segera mendapatkan perlindungan dan pendampingan. Jangan sampai mereka merasa sendirian ketika menghadapi persoalan seperti ini,” ujarnya.

Selain menyoroti kasus kekerasan, Sumadi juga menyinggung persoalan stunting yang masih menjadi tantangan di Berau. Ia meminta program penanganan stunting tidak hanya sebatas kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, upaya pencegahan stunting harus dilakukan secara berkelanjutan melalui edukasi gizi, peningkatan layanan kesehatan, hingga perhatian terhadap kondisi keluarga.

Ia menegaskan, persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta stunting merupakan isu penting yang perlu ditangani bersama oleh pemerintah dan masyarakat.

Sumadi juga mendorong agar sosialisasi mengenai ketahanan keluarga terus diperkuat. Sebab, keluarga yang harmonis dan kuat dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.

“Ketahanan keluarga harus diperkuat melalui edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Ini penting agar keluarga mampu menjadi tempat yang aman bagi anak dan perempuan,” tutupnya. (Adv)