Debit Air Embung Bolong Nunukan Terus Menurun akibat Kemarau

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kepala Bagian Teknik Perumda Tirta Taka Nunukan, Rusdiansyah. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)
Kepala Bagian Teknik Perumda Tirta Taka Nunukan, Rusdiansyah. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Debit Air Embung Bolong Nunukan Terus Menurun akibat Kemarau

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kepala Bagian Teknik Perumda Tirta Taka Nunukan, Rusdiansyah. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)
Kepala Bagian Teknik Perumda Tirta Taka Nunukan, Rusdiansyah. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Debit Air Embung Bolong Nunukan Terus Menurun akibat Kemarau

Kepala Bagian Teknik Perumda Tirta Taka Nunukan, Rusdiansyah. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan

NUNUKAN – Minimnya curah hujan yang terjadi sepanjang tahun ini mulai berdampak terhadap ketersediaan air baku di Kabupaten Nunukan. Perumda Air Minum Tirta Taka Nunukan mencatat debit air di Embung Bolong mengalami penurunan seiring berkurangnya pasokan air hujan.

Kepala Bagian Teknik Perumda Air Minum Tirta Taka Nunukan, Rusdiansyah mengatakan, saat ini debit air yang masuk hanya berkisar 30 liter per detik dengan ketinggian volume air di embung mencapai sekitar 39 sentimeter.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi rendahnya intensitas hujan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir. Bahkan, tahun ini dinilai menjadi salah satu periode dengan curah hujan yang cukup minim dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Curah hujan tahun ini terbilang sangat sedikit sehingga berdampak terhadap ketersediaan air baku di embung,” ujarnya.

Rusdiansyah menjelaskan, keterbatasan sumber air baku masih menjadi persoalan utama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat di Kabupaten Nunukan. Karena itu, pihaknya berharap pembangunan embung baru di wilayah Sei Limau dapat segera direalisasikan.

Namun demikian, rencana pembangunan embung tersebut hingga kini masih terkendala proses pembebasan lahan yang belum tuntas.

“Kami berharap pembangunan embung di Sei Limau dapat segera dilakukan. Saat ini memang masih terkendala lahan yang belum bisa dibebaskan. Mudah-mudahan tahun depan proses pembebasan lahan sudah dapat diselesaikan sehingga pembangunan bisa dipercepat,” katanya.

Selain itu, upaya optimalisasi Embung Bolong juga menghadapi hambatan lain. Wilayah embung diketahui masuk dalam kawasan hutan lindung sehingga proses perizinan, khususnya untuk akses jalan dan pengerukan embung, memerlukan tahapan yang cukup panjang.

Menurut Rusdiansyah, kondisi geografis dan keterbatasan sumber air baku menjadi tantangan tersendiri bagi Nunukan dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terus meningkat.

“Nunukan sejatinya memang masih terkendala persoalan air baku. Karena itu, pengembangan sumber air baru menjadi sangat penting untuk mendukung pelayanan air bersih ke masyarakat,” pungkasnya.