Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda memprakirakan kondisi cuaca di Kota Samarinda masih akan didominasi hujan dengan intensitas menengah dalam beberapa 10 hari ke depan.
Meski sempat mengalami cuaca panas dan kering cukup lama, hujan kini kembali sering terjadi akibat pengaruh pola atmosfer dan masa peralihan musim.
Prakirawan Cuaca BMKG Samarinda, Zaki Ramdhani, mengatakan curah hujan di wilayah Samarinda diperkirakan masih berada pada kategori menengah, yakni berkisar 50 hingga 100 milimeter dalam satu dasarian atau periode 10 hari.
“Untuk prakiraan ke depan kami tetap konsisten, curah hujan masih berada di kategori menengah,” kata Zaki, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, cuaca panas yang sempat melanda Samarinda sebelumnya dipengaruhi pola arus angin di wilayah Kalimantan. Saat itu terdapat belokan angin di bagian selatan Pulau Kalimantan yang menyebabkan konsentrasi uap air berpindah ke wilayah perbatasan Kalimantan Tengah dan Malaysia.
“Kondisi itu membuat uap udara banyak tersebar ke sana sehingga wilayah Samarinda sempat lebih kering dan panas,” jelasnya.
Namun saat ini, kondisi atmosfer mulai berubah karena Kalimantan memasuki masa pancaroba atau peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Pada fase tersebut, kondisi cuaca disebut masih sangat labil.
“Sekarang memang sudah masuk masa peralihan, jadi cuacanya masih sangat dinamis,” katanya.
BMKG juga menyebut hujan masih sangat mungkin terjadi hampir setiap hari di Samarinda. Hal itu dipengaruhi posisi geografis Samarinda yang berada di wilayah ekuator dengan karakteristik curah hujan lebih panjang dibanding daerah lain.
“Hujan masih bisa terjadi hampir setiap hari, tetapi sifatnya lokal,” ujar Zaki.
Ia menjelaskan hujan lokal dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin yang membawa uap air hasil penguapan dari laut maupun sungai besar, termasuk Sungai Mahakam.
Fenomena hujan lokal ini disebut kerap terjadi di Samarinda dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, kondisi hujan dapat berbeda antarwilayah dalam waktu bersamaan.
“Data kami menunjukkan kemarin di Sungai Siring belum hujan, tetapi di pusat kota sudah hujan. Kadang sebaliknya, di Samarinda Seberang juga belum tentu hujan,” katanya.
Terkait kemungkinan masuk musim kemarau, BMKG memperkirakan kondisi tersebut baru mulai terjadi sekitar Juni 2026. Meski demikian, pergeseran musim masih bisa berubah mengikuti perkembangan atmosfer beberapa waktu ke depan.
“Tidak menutup kemungkinan musim kemarau bisa sedikit maju dari prediksi sebelumnya,” pungkasnya.


