Banner ADV

Budiono Kagumi Sistem Panen Air Hujan di Sleman, Dinilai Cocok Jadi Solusi Krisis Air Balikpapan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wakil Ketua III DPRD Balikpapan, Budiono. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Wakil Ketua III DPRD Balikpapan, Budiono. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Budiono Kagumi Sistem Panen Air Hujan di Sleman, Dinilai Cocok Jadi Solusi Krisis Air Balikpapan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wakil Ketua III DPRD Balikpapan, Budiono. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Wakil Ketua III DPRD Balikpapan, Budiono. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Budiono Kagumi Sistem Panen Air Hujan di Sleman, Dinilai Cocok Jadi Solusi Krisis Air Balikpapan 

Wakil Ketua III DPRD Balikpapan, Budiono. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin

BALIKPAPAN - Wakil Ketua III DPRD Balikpapan, Budiono mengaku takjub dengan penerapan sistem panen air hujan yang digunakan masyarakat di Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Konsep tersebut dinilai dapat menjadi solusi alternatif mengatasi keterbatasan sumber air baku di Kota Balikpapan.

Ini disampaikan Budiono usai melakukan kunjungan luar daerah dan melihat langsung sistem pengelolaan air hujan yang diterapkan melalui program Sekolah Panen Air atau Sekolah Banyu Bening di wilayah tersebut.

Menurutnya, setiap rumah warga di desa tersebut telah dilengkapi instalasi paralon dan tandon penampungan air hujan yang terhubung secara terintegrasi. Air hujan yang ditampung kemudian diolah dan dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk air minum.

"Di sana ada Sekolah Panen Air atau Sekolah Banyu Bening. Jadi air hujan itu ditampung ke tandon besar, lalu diinstalasi ke rumah-rumah warga," ucap Budiono, Senin (11/5/2026).

Ia menilai metode tersebut sangat relevan diterapkan di Balikpapan yang selama ini masih menghadapi persoalan keterbatasan sumber air baku dan sangat bergantung pada curah hujan.

"Saya pikir ini bagus sebagai solusi ketika Balikpapan kekurangan air. Karena Balikpapan juga sama-sama mengandalkan tadah hujan," katanya.

Budiono menjelaskan, sistem panen air hujan di desa tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, tetapi juga mampu mengurangi potensi banjir. Sebab selain menampung air hujan, masyarakat juga membangun banyak biopori untuk meningkatkan resapan air ke tanah.

"Di sana tidak ada banjir karena selain air hujan dipanen dan dimanfaatkan, ada juga biopori-biopori," jelasnya. Ia mengungkapkan, konsep tersebut diterapkan hampir di seluruh desa dan tidak lagi bergantung pada layanan PDAM. 

Pemerintah daerah setempat disebut memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan fasilitas penampungan dan pengolahan air hujan. "Setiap rumah yang punya atap bisa mengalirkan air hujan masuk ke tandon. Ini didukung pemerintah," ujarnya.

Dalam proses pengolahannya, air hujan menggunakan teknologi elektrolisis sehingga dapat diubah menjadi air layak konsumsi tanpa harus direbus terlebih dahulu. Teknologi tersebut bekerja dengan memisahkan kandungan mineral melalui pertukaran ion positif dan negatif untuk menghasilkan air yang aman dikonsumsi.

Budiono menilai inovasi panen air hujan tersebut layak dikaji lebih lanjut sebagai alternatif solusi jangka panjang menghadapi ancaman kekeringan maupun dampak El Nino di Balikpapan. Dengan curah hujan yang tinggi, Balikpapan memiliki potensi besar untuk mengembangkan sistem serupa demi memperkuat ketahanan air bersih masyarakat.

"Metodenya bagus dan bisa menjadi salah satu solusi untuk membantu kebutuhan air bersih warga Balikpapan," pungkasnya. (Adv)