DPRD Minta Kuota BBM Kaltara Ditambah, Termasuk Peningkatan Pengawasan SPBU

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Anggota DPRD Kaltara Komisi II, Muhammad Nasir. (Foto: DPRD Kaltara)
Anggota DPRD Kaltara Komisi II, Muhammad Nasir. (Foto: DPRD Kaltara)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DPRD Minta Kuota BBM Kaltara Ditambah, Termasuk Peningkatan Pengawasan SPBU

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Anggota DPRD Kaltara Komisi II, Muhammad Nasir. (Foto: DPRD Kaltara)
Anggota DPRD Kaltara Komisi II, Muhammad Nasir. (Foto: DPRD Kaltara)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DPRD Minta Kuota BBM Kaltara Ditambah, Termasuk Peningkatan Pengawasan SPBU

Anggota DPRD Kaltara Komisi II, Muhammad Nasir. (Foto: DPRD Kaltara)

TANJUNG SELOR – Persoalan distribusi BBM subsidi di Kalimantan Utara (Kaltara) dinilai belum sepenuhnya tertangani. Ini mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kaltara bersama mitra kerja pada awal pekan ini.

Anggota DPRD Kaltara Komisi II Fraksi PKS, Muhammad Nasir, S.Pi., M.M menilai masalah BBM sudah terjadi hampir di seluruh wilayah Kaltara.

Menurutnya, pengawasan yang ada belum berjalan maksimal dan berkelanjutan, serta menyebut kebutuhan BBM di daerah belum dihitung berdasarkan kondisi riil di lapangan, termasuk untuk sektor usaha dan mobilitas masyarakat.

“Data kebutuhan BBM harus terus diperbarui setiap tahun. Harus sesuai kondisi nyata masyarakat,” ujar Muhammad Nasir.

Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan di tingkat SPBU. Sebab, praktik penyalahgunaan distribusi sering terjadi dan diketahui pihak terkait, tapi tidak ditindak tegas. “Kalau ada SPBU yang membiarkan pelanggaran, izinnya harus dievaluasi,” tegasnya.

Selain pengawasan, Nasir juga mendorong pemerintah provinsi (Pemprov) bersama DPRD Kaltara memperjuangkan penambahan kuota BBM ke Pertamina pusat karena ini menjadi akar utama persoalan kelangkaan.

Ia mengungkapkan, kuota BBM di Kaltara masih belum terpenuhi secara optimal. Salah satunya untuk Pertalite yang baru sekitar 51 persen. “Kalau kuota kurang, pengawasan seketat apa pun tetap tidak akan menyelesaikan antrean,” katanya.

Nasir menegaskan, kondisi geografis Kaltara sebagai wilayah perbatasan harus menjadi pertimbangan pemerintah pusat dalam penetapan kuota energi subsidi. (Adv)