Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Ketergantungan petambak udang windu di Kabupaten Berau terhadap pasokan bibit dari luar daerah perlahan mulai berkurang.
Kehadiran hatchery atau unit pembenihan di Tanjung Batu kini menjadi harapan baru bagi pengembangan tambak lokal, setelah mampu menghasilkan jutaan bibit udang berkualitas setiap tahunnya.
Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, mengatakan selama ini sebagian besar kebutuhan benur udang windu masih dipasok dari Tarakan hingga Pulau Jawa. Kondisi itu membuat petambak harus menghadapi biaya distribusi tinggi sekaligus risiko kematian bibit saat pengiriman.
Menurutnya, produksi benur lokal mulai berkembang melalui kerja sama Dinas Perikanan bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan SMK Negeri 3 Perikanan Tanjung Batu.
Permintaan benur udang windu di Berau sebenarnya cukup tinggi, mencapai sekitar 10 hingga 20 juta ekor setiap tahun. Namun, kapasitas hatchery di Tanjung Batu saat ini baru mampu memenuhi sekitar dua juta ekor untuk kebutuhan petambak lokal.
“Permintaannya masih sangat tinggi. Banyak petambak yang ingin menggunakan bibit lokal karena kualitasnya lebih bagus,” ujarnya.
Ia menjelaskan, benur hasil pembenihan di Tanjung Batu lebih diminati karena tingkat kelangsungan hidupnya lebih tinggi dibanding bibit kiriman luar daerah. Bibit yang didatangkan dari Tarakan, misalnya, memiliki risiko kematian cukup besar akibat proses pengiriman yang panjang.
“Kalau dari luar daerah tingkat mortalitasnya bisa sampai 50 persen. Sementara bibit lokal lebih segar karena langsung ditebar ke tambak,” katanya.
Keberadaan hatchery tersebut dinilai menjadi solusi penting bagi petambak di Berau, khususnya dalam menekan kerugian saat masa penebaran bibit. Meski kapasitas produksi masih terbatas, minat petambak terus meningkat dari tahun ke tahun.
Bahkan, tingginya permintaan membuat pengelola pembenihan belum mampu melayani seluruh kebutuhan pasar. Banyak permintaan benur yang terpaksa ditunda karena fasilitas produksi saat ini belum memadai.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Perikanan Berau berencana menambah fasilitas peneluran dan memperluas area pembenihan di kawasan SMK Negeri 3 Perikanan Tanjung Batu. Abdul Majid menyebut lahan pengembangan masih tersedia dan berpotensi meningkatkan kapasitas produksi benur di masa mendatang.
Sementara itu, beberapa kawasan lain seperti Pagat Betumbuk dan wilayah Sambaliung masih difokuskan sebagai area pembesaran udang, bukan untuk pembenihan.
“Ke depan kemungkinan akan terus dikembangkan karena fasilitas yang ada sekarang memang masih kurang,” pungkasnya.


