Sentuhan Seni dari Balik Jeruji Lapas Nunukan, Batik Khas Daerah Siap Jadi Kebanggaan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kegiatan membatik yang dilakukan oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)
Kegiatan membatik yang dilakukan oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Sentuhan Seni dari Balik Jeruji Lapas Nunukan, Batik Khas Daerah Siap Jadi Kebanggaan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kegiatan membatik yang dilakukan oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)
Kegiatan membatik yang dilakukan oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Sentuhan Seni dari Balik Jeruji Lapas Nunukan, Batik Khas Daerah Siap Jadi Kebanggaan

Kegiatan membatik yang dilakukan oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan

NUNUKAN – Suara canting yang menyentuh kain perlahan mengisi ruang kegiatan kerja di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Nunukan. Di balik tembok pembinaan itu, lahir karya seni bernilai budaya tinggi. Para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berhasil menciptakan motif batik khas Nunukan yang sarat identitas lokal dan siap menjadi kebanggaan daerah.

Program membatik yang dijalankan Lapas Nunukan bukan sekadar aktivitas pengisi waktu. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian untuk membentuk WBP yang aktif, produktif, serta memiliki keterampilan hidup yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat.

Menariknya, motif batik yang dikembangkan bukan motif biasa. Lapas Nunukan menghadirkan kolaborasi antara motif khas Nunukan “Lulantatibu” dengan identitas visual khas Lapas Nunukan yang kemudian dikemas menjadi motif unik bernama Batik LaNuka.

Pihak Lapas Nunukan bahkan menelusuri sejarah terbentuknya Kabupaten Nunukan dan kekayaan budaya lokal sebagai dasar penciptaan motif tersebut. Berbagai unsur adat dan suku asli Kalimantan yang berada di wilayah Nunukan turut menjadi inspirasi utama dalam proses desain.

Kepala Lapas Kelas IIB Nunukan, Donny Setiawan, mengaku bangga atas capaian para warga binaan yang berhasil menghasilkan karya batik berkualitas.

Menurutnya, batik hasil karya WBP Lapas Nunukan bahkan telah digunakan oleh pimpinan tinggi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan serta sejumlah pejabat pimpinan tinggi madya lainnya.

“Kami cukup bangga dan senang karena hasil batik karya warga binaan sudah berhasil dan mendapat apresiasi. Ini menjadi bukti bahwa warga binaan juga mampu menghasilkan karya yang bernilai seni dan budaya,” ujar Donny.

Ia menambahkan, pengembangan motif batik khas Nunukan produksi Lapas tersebut nantinya akan diarahkan untuk memperoleh hak paten di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Lebih dari sekadar produk fesyen, batik LaNuka diharapkan menjadi media edukasi kepada masyarakat bahwa kreativitas dapat tumbuh di mana saja, termasuk dari lingkungan pemasyarakatan. Kehadiran motif khas ini juga menjadi simbol bahwa pembinaan di lapas tidak hanya berfokus pada aspek kedisiplinan, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia dan pelestarian budaya daerah.

“Kegiatan membatik ini merupakan kesempatan luar biasa bagi warga binaan untuk menimba ilmu dan keterampilan. Bukan hanya seremonial, tetapi menjadi tonggak peningkatan kualitas SDM, menumbuhkan kreativitas, sekaligus melestarikan budaya daerah yang terus berkembang mengikuti zaman,” jelas Donny.

Dengan sentuhan seni dan filosofi budaya lokal, batik karya warga binaan Lapas Nunukan kini bukan hanya menjadi hasil kerajinan tangan, melainkan juga simbol harapan, perubahan, dan semangat berkarya dari balik jeruji.