Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB - Cuaca panas yang melanda Kabupaten Berau dalam beberapa pekan terakhir mulai memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko gangguan kesehatan masyarakat.
Kondisi suhu udara yang mencapai 34 hingga 35 derajat Celsius dinilai tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga berpotensi memicu berbagai penyakit apabila warga tidak menjaga kondisi tubuh.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Lamlay Sarie, mengatakan paparan panas berlebih dapat berdampak serius, terutama bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Menurutnya, cuaca ekstrem seperti saat ini membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan sehingga rentan mengalami dehidrasi.
“Tubuh bisa mengalami penurunan daya tahan apabila cairan tidak tercukupi. Ini yang perlu diwaspadai masyarakat, apalagi bagi pekerja lapangan, anak-anak, ibu hamil, dan lansia,” ujarnya.
Ia mengatakan suhu panas berkepanjangan juga dapat memicu kelelahan akibat panas atau heat exhaustion. Jika tidak segera ditangani, maka kondisi tersebut dapat berkembang menjadi heat stroke yang berbahaya bagi keselamatan jiwa.
Gejala heat stroke sendiri di antaranya ditandai dengan suhu tubuh tinggi, kulit terasa panas dan kering, pusing berat, mual, hingga penurunan kesadaran. Dalam beberapa kasus, kondisi itu membutuhkan penanganan medis secepat mungkin.
Selain itu, masyarakat yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, maupun gangguan pernapasan diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas di tengah cuaca panas. Sebab, suhu udara tinggi dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka.
Dinkes Berau juga mengingatkan warga agar tidak memaksakan diri beraktivitas di bawah terik matahari dalam waktu lama, terutama pada siang hari. Penggunaan pakaian yang nyaman, konsumsi makanan bergizi, serta istirahat yang cukup disebut menjadi langkah sederhana namun penting untuk menjaga kebugaran tubuh.
“Kami mengimbau masyarakat memperbanyak minum air putih minimal delapan gelas sehari dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala kelelahan akibat panas,” tambah Lamlay.
Dinkes berharap masyarakat lebih peduli terhadap kondisi kesehatan selama cuaca panas berlangsung agar risiko penyakit akibat suhu ekstrem dapat ditekan.


