Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB - Pemerintah Kabupaten Berau mulai memetakan pengembangan budidaya ikan berbasis bioflok agar tidak terpusat di satu kawasan saja.
Melalui Dinas Perikanan, sedikitnya enam kampung ditargetkan masuk dalam program nasional yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hingga 2029.
Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Perikanan Berau, Budiono, menjelaskan program tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan desa sekaligus mendukung pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Menurutnya, dua kampung yang saat ini sudah lebih dulu diajukan yakni Kampung Labanan Jaya dan Labanan Makmur. Kedua wilayah tersebut kini masih menjalani proses verifikasi dari KKP sebelum ditetapkan sebagai lokasi pengembangan bioflok tematik.
“Dua kampung itu menjadi usulan awal karena dinilai memiliki kesiapan yang cukup baik, baik dari sisi potensi budidaya maupun kelembagaan koperasinya,” ujarnya.
Dinas Perikanan juga kembali mengusulkan Kampung Melati Jaya dan Kampung Sukan sebagai calon lokasi tambahan. Penilaian dilakukan berdasarkan kesiapan masyarakat, dukungan lahan, hingga kemampuan koperasi desa dalam menjalankan program berkelanjutan.
Budiono menyebut, pemerintah daerah ingin pengembangan bioflok tersebar merata agar manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan di satu wilayah tertentu. Karena itu, pembagian kawasan budidaya dirancang mewakili wilayah tengah, selatan, hingga utara Berau.
“Wilayah tengah sudah ada Labanan Jaya dan Labanan Makmur, selatan ada Sukan dan Melati Jaya. Untuk wilayah utara masih dalam tahap kajian,” katanya.
Beberapa kampung yang kini masuk dalam pertimbangan untuk wilayah utara di antaranya Tanjung Batu, Kasai, Semanting, dan Pegat Batumbuk. Namun, penetapan akhir masih menunggu kesiapan lahan serta kelengkapan kelembagaan desa.
Program bioflok sendiri menjadi salah satu agenda jangka panjang pemerintah pusat dengan target pembentukan 4.000 koperasi desa di seluruh Indonesia. Selain meningkatkan produksi ikan air tawar, sistem ini juga dinilai lebih hemat lahan dan efisien dalam penggunaan air dibanding metode budidaya konvensional.
Melalui program tersebut, Pemkab Berau berharap sektor perikanan budidaya dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat kampung sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.


