Jasa Asah Golok Kebanjiran Order, Pandai Besi Balikpapan Sepi Pembeli Jelang Iduladha

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Juliansyah bersama tekan kerjanya menempa besi di bengkelnya, Selasa (19/5/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Juliansyah bersama tekan kerjanya menempa besi di bengkelnya, Selasa (19/5/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Jasa Asah Golok Kebanjiran Order, Pandai Besi Balikpapan Sepi Pembeli Jelang Iduladha

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Juliansyah bersama tekan kerjanya menempa besi di bengkelnya, Selasa (19/5/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Juliansyah bersama tekan kerjanya menempa besi di bengkelnya, Selasa (19/5/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Jasa Asah Golok Kebanjiran Order, Pandai Besi Balikpapan Sepi Pembeli Jelang Iduladha

Juliansyah bersama tekan kerjanya menempa besi di bengkelnya, Selasa (19/5/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin 

BALIKPAPAN -Bengkel pandai besi milik Juliansyah di Kota Balikpapan kembali dipenuhi suara dentuman palu dan percikan api dari bara besi panas saat menjelang Iduladha. 

Namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, keramaian yang terjadi kali ini justru lebih banyak datang dari warga yang ingin mengasah ulang golok dan pisau lama dibanding membeli alat sembelih baru.

Di bengkel sederhana yang telah berdiri sejak era 1950-an itu, Juliansyah mengaku omzet pembuatan parang baru mengalami penurunan cukup drastis dibanding musim kurban sebelumnya.

"Tahun ini kurang begitu enak dibanding tahun-tahun lalu. Penghasilannya tidak dapat banyak," ujar Juliansyah, Selasa (19/5/2026).

Pengrajin pandai besi generasi ketiga tersebut mengatakan, pada musim Iduladha tahun lalu, pesanan parang baru sudah membludak sejak dua hingga tiga bulan sebelum hari raya. 

Dalam sehari, bengkel miliknya bahkan mampu menerima pesanan hingga puluhan bilah parang.

"Kalau dulu bisa 20 sampai 50 parang per hari. Sekarang paling masuk lima sampai sepuluh pesanan baru saja," katanya.

Menurutnya, mayoritas pelanggan yang datang saat ini lebih memilih menggunakan jasa asah untuk memperbaiki alat sembelih lama yang masih layak pakai. 

Kondisi ekonomi yang belum stabil disebut menjadi salah satu penyebab masyarakat menekan pengeluaran menjelang Iduladha.

"Rata-rata orang sekarang sudah punya parang sendiri dari tahun-tahun sebelumnya, jadi tinggal diasah lagi," tambahnya.

Meski pesanan baru menurun, aktivitas di bengkel tetap berjalan. Juliansyah bersama rekannya silih berganti menempa besi panas di atas bara arang kayu ulin untuk membuat parang, pisau hingga kampak pemotong tulang.

Ia menjelaskan, bengkel miliknya menyediakan berbagai jenis bahan baku besi, mulai dari besi per biasa, per spiral hingga besi bearing atau kelahar yang dikenal memiliki ketajaman lebih baik.

Semua proses pengerjaan masih dilakukan secara manual dengan teknik tradisional yang diwariskan turun-temurun sejak puluhan tahun lalu.

Untuk harga, bengkel tersebut mematok tarif mulai Rp50 ribu untuk pisau hingga Rp150 ribu untuk parang, tergantung ketebalan dan jenis bahan besi yang digunakan.

"Harga tergantung bahan besi yang dibawa konsumen atau yang disediakan dari bengkel," jelasnya.

Salah seorang pelanggan, Jamaluddin mengaku sengaja datang untuk mengasah alat sembelih miliknya sebagai persiapan Iduladha.
Ia menilai jasa asah lebih hemat dibanding membeli parang baru.

"Sengaja ke sini buat persiapan Iduladha. Ini sudah jadi rutinitas tahunan. Tempat pandai besi ini sudah sepuh dan hasil buatannya terkenal tajam," ucapnya.

Di tengah gempuran alat produksi modern, bengkel pandai besi tradisional itu masih bertahan menjaga warisan keterampilan lama.

Namun bagi Juliansyah, bertahan hidup dari bara api dan dentuman palu kini tak lagi semudah tahun-tahun sebelumnya.