Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB - Upaya pelestarian anggrek endemik Kalimantan mulai digencarkan di Kampung Tubaan, Kabupaten Berau. Langkah ini dilakukan setelah ribuan anggrek yang sebelumnya tumbuh alami di kawasan hutan setempat dilaporkan hilang akibat maraknya perburuan dan perdagangan tanaman hias.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena anggrek khas Kalimantan merupakan bagian dari kekayaan alam yang harus dijaga keberadaannya.
Menurutnya, Hutan Tubaan dulunya dikenal sebagai habitat berbagai jenis anggrek liar yang tumbuh subur di alam. Tapi meningkatnya tren penjualan bunga beberapa waktu terakhir membuat banyak tanaman diambil dari hutan untuk diperjualbelikan.
Sebagai langkah penyelamatan, Disbudpar Berau menyiapkan program bertajuk Orchid Guardian Trip. Program itu mengajak wisatawan ikut terlibat langsung dalam pelestarian anggrek sekaligus menjaga kelestarian hutan.
“Wisatawan tidak hanya datang menikmati alam, tetapi juga ikut menanam kembali anggrek ke habitat aslinya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep wisata tersebut tidak hanya berfokus pada rekreasi, tetapi juga edukasi lingkungan. Pengunjung nantinya akan dikenalkan dengan berbagai jenis anggrek endemik serta pentingnya menjaga ekosistem hutan agar tetap lestari.
Selain itu, program tersebut juga diharapkan memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar melalui pengembangan wisata berbasis konservasi. Pengunjung dapat menikmati suasana alam, sekaligus berkontribusi dalam upaya penyelamatan tanaman langka.
Disbudpar Berau juga menggandeng kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan sejumlah organisasi pemerhati lingkungan untuk mendukung pendampingan sumber daya manusia dan pengelolaan program.
Samsiah menambahkan, pihaknya ingin membangun konsep wisata yang mandiri dengan mengedepankan edukasi, konservasi, serta perlindungan hutan agar keberadaan anggrek khas Kalimantan tetap terjaga untuk generasi mendatang.


