Masuk Musim Kemarau, Produksi Air Bersih Perumda AMDT PPU Mulai Turun

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid. (Foto: Adi Kade/Pusaranmedia.com)
Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid. (Foto: Adi Kade/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Masuk Musim Kemarau, Produksi Air Bersih Perumda AMDT PPU Mulai Turun

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid. (Foto: Adi Kade/Pusaranmedia.com)
Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid. (Foto: Adi Kade/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Masuk Musim Kemarau, Produksi Air Bersih Perumda AMDT PPU Mulai Turun 

Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid. (Foto: Adi Kade/Pusaranmedia.com)

Reporter: Adi Kade | Editor: Bambang Irawan 

PENAJAM - Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Danum Taka (AMDT) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengantisipasi krisis air bersih di musim kemarau 2026. 

Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid mengatakan, memasuki peralihan musim hujan ke musim kemarau mulai berdampak terhadap pasokan air baku di tujuh unit Water Treatment Plant (WTP) yang dikelola Perumda AMDT. 

Seperti WTP Lawe-Lawe di Kelurahan Lawe-Lawe, Kecamatan Penajam mulai mengalami penurunan produksi air bersih dari 110 liter per detik menjadi 80 liter per detik. 

Penurunan produksi air bersih tersebut telah terjadi selama dua bulan terakhir lantaran curah hujan di Benuo Taka mulai menurun. 

“WTP Lawe-Lawe sudah turun produksi air bersihnya mencapai 30 liter per detik,” kata Abdul Rasyid, Rabu (20/5/2026). 

Ia mengungkapkan, sumber air baku Perumda AMDT berasal dari air permukaan sehingga sangat tergantung dengan curah hujan. 

“Sumber air baku kita dari air permukaan atau tadah hujan, itu yang kita tampung. Apalagi saat ini kemarau mulai kelihatan karena perlahan curah hujan mulai turun. Meskipun sesekali ada turun hujan tetapi langsung terserap kedalam tanah dan tidak memadai untuk menyuplai ke penampungan air baku kita,” jelasnya. 

Abdul Rasyid berharap, kemarau di tahun ini tidak berlangsung lama seperti 2019 lalu yang mengakibatkan produksi air bersih mengalami penurunan sebesar 60 sampai 70 persen. 

“Kami berharap tahun ini tidak sama di tahun 2019. Karena di tahun itu, WTP Sotek berhenti total beroperasi hampir setahun karena embung yang menjadi sumber air baku mengalami kekeringan. Sementara WTP yang lainnya juga mengalami penurunan produksi air bersih hingga 70 persen,” pungkasnya.