Menemukan Jejak Mbah Buyut Tondo di Lorong Tua Kampung Ketandan Surabaya

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Menemukan Jejak Mbah Buyut Tondo di Lorong Tua Kampung Ketandan Surabaya

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Menemukan Jejak Mbah Buyut Tondo di Lorong Tua Kampung Ketandan Surabaya

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Menemukan Jejak Mbah Buyut Tondo di Lorong Tua Kampung Ketandan Surabaya

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Menemukan Jejak Mbah Buyut Tondo di Lorong Tua Kampung Ketandan Surabaya

Oleh: Achmad Fadillah

LANGIT Surabaya mulai redup ketika saya dan rekan kerja, Maya Sari Agustini, duduk menikmati kopi di kawasan Jalan Tunjungan, Kota Surabaya. 

Hiruk-pikuk kota tua itu terasa berbeda menjelang malam. Lampu-lampu mulai menyala, kendaraan berlalu-lalang, sementara para pejalan kaki sibuk menikmati suasana khas pusat kota.

Sore itu kami singgah di PSI Coffee & Spiku. Secangkir kopi menjadi teman sebelum kembali ke hotel tempat kami menginap, Hotel Platinum Tunjungan Surabaya.

Namun perjalanan pulang berubah menjadi sebuah penelusuran kecil yang tak direncanakan.

Tepat di depan hotel, mata kami tertuju pada sebuah gapura besar bertuliskan Kampung Ketandan. Di bagian atasnya terdapat ornamen dan papan nama yang juga memuat identitas Bank Indonesia.

Lorong gang itu tampak menarik. Ada kesan tua, tenang, sekaligus misterius.

"Coba masuk kah, Ri," ucapku kepada Maya Tri Agustini yang akrab disapa Tri. Ia mengangguk setuju.

Kami melangkah masuk perlahan. Di mulut gang, seorang pengendara motor tampak turun sambil mendorong kendaraannya karena terdapat aturan agar motor tidak dikendarai di dalam kampung wisata tersebut.

Lorong demi lorong mulai kami susuri. Awalnya kami sempat bingung menentukan arah. Kami bahkan sempat berputar balik karena takut salah jalan. Hingga akhirnya kami memilih berjalan ke sisi kanan gang yang tampak lebih hidup.

Di sana terdapat Arek Cafe, lalu sebuah joglo kayu dengan tulisan "Balai Budaya Cak Markeso Ketandan".

Di depan joglo terdapat sebuah peta besar yang memperlihatkan identitas Kampung Ketandan.

Saya cukup terkejut melihat banyaknya titik sejarah di kampung kecil yang berada di tengah gedung-gedung tinggi Surabaya itu. 

Di peta tersebut terdapat sejumlah lokasi seperti Masjid An Nur, Makam Mbah Buyut Tondo, Joglo Cak Markeso, Rumah Jengki, Rumah Sidik Aspar, Rumah Lahir Gombloh, hingga Rawon Setan.

Di tengah kebingungan menentukan arah berikutnya, seorang pemuda menghampiri kami dengan ramah. Namanya Rojer, anggota Karang Taruna Kampung Ketandan yang baru berusia 16 tahun.

"Permisi mas, di sini ada apa saja ya?" tanyaku.

Roger lalu mulai bercerita mengenai kampungnya.

Di situlah nama Mbah Buyut Tondo pertama kali saya dengar.

"Mbah Buyut Tondo itu leluhur kami," ujar Roger.

Kalimat sederhana itu justru membuat rasa penasaran semakin besar.

"Bolehkah masuk mas," pintaku.

Roger kemudian mengajak kami menuju sebuah area makam kecil yang berada di dalam kampung. Sebelum masuk, ia mengingatkan kami untuk mengucapkan salam.

"Assalamualaikum," ucap saya pelan sebelum melangkah masuk.

Suasana di area makam terasa hening. Di samping terdapat dua makam yang disebut prajurit dari Mbah Buyut Tondo. Sementara di sekitar makam almarhum diyakini malam keluarganya.

Di area makam terdapat pohon beringin rindang dengan bangunan sederhana yang baru direnovasi setelah sebelumnya sempat tertimpa pohon beringin pada 2025.

Menurut Rojer, masyarakat setempat percaya Mbah Buyut Tondo merupakan leluhur sekaligus pelindung Kampung Ketandan.

Berdasarkan penelusuran literasi digital, nama "Ketandan" diyakini berasal dari kata "Tondo", yakni jabatan penarik pajak pada masa lampau. Sosok Mbah Buyut Tondo dipercaya sebagai tokoh awal yang membuka kawasan tersebut.

Di tengah modernisasi Kota Surabaya, Kampung Ketandan justru tetap mempertahankan jejak sejarahnya.

Di sela obrolan, suara anak-anak mengaji terdengar dari sekitar musala. Tepat di sebelah malam yang disebut bangun tua yang telah direvitalisasi tanpa menghilangkan keasliannya.

"Ini kampung tertua di Surabaya pusat," katanya bangga.

Saya memandang sekeliling. Di luar kampung berdiri hotel dan gedung tinggi, tetapi di tengahnya masih tersimpan lorong-lorong sempit yang menjaga sejarah berusia puluhan bahkan mungkin ratusan tahun.

Sebelum pulang, saya mengirimkan Al-Fatihah untuk Mbah Buyut Tondo sebagai sohibul wilayah yang tanpa sengaja saya temui dalam perjalanan singkat di Kota Pahlawan.

Malam itu saya sadar, kadang sebuah perjalanan tidak hanya membawa kita ke tempat baru, tetapi juga mempertemukan kita dengan jejak sejarah yang selama ini tersembunyi di balik lorong-lorong kota.