Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
SURABAYA - Praktisi media nasional, Nicha Muslimawati menilai konten video sederhana atau yang kerap disebut "konten receh" kini justru menjadi salah satu senjata efektif media dalam menyampaikan isu ekonomi di era digital.
Ini disampaikannya saat memberikan materi mengenai skill set digital bagi wartawan ekonomi dalam kegiatan Capacity Building yang digelar Bank Indonesia (BI) Balikpapan di Hotel Platinum Surabaya, Kamis (21/5/2026).
Menurut editor berita ekonomi ini, perkembangan media sosial membuat pola konsumsi informasi masyarakat berubah, khususnya generasi muda yang lebih tertarik pada video singkat dengan pendekatan ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Konten-konten pembayaran digital, QRIS, itu biasanya langsung kemakan di Gen Z dan milenial karena mereka sudah cashless banget," ucap Nicha.
Ia mengatakan media saat ini dituntut lebih kreatif dalam mengemas berita ekonomi agar dapat menjangkau audiens luas tanpa kehilangan substansi informasi.
Salah satu caranya dengan mengubah isu ekonomi yang berat menjadi konten visual yang dekat dengan masyarakat sebagai end user atau pengguna akhir.
Nicha mencontohkan pemberitaan soal QRIS atau transaksi digital di luar negeri bisa dibuat lebih menarik dengan menunjukkan langsung pengalaman pengguna saat bertransaksi.
"Daripada cuma reporter yang ngomong, lebih baik langsung praktik transaksi pakai QRIS, jadi audiens merasa dekat," katanya.
Ia mengakui hingga kini belum ada rumus pasti untuk menembus algoritma media sosial.
Namun, media harus terus mencoba berbagai format agar mendapatkan engagement tinggi.
Dalam paparannya, Nicha juga menyoroti persaingan media arus utama dengan akun informasi lokal atau "homeless media" yang kini semakin kuat di media sosial.
Menurutnya, media mainstream tidak bisa lagi memandang sebelah mata akun-akun informasi lokal karena mereka sering kali lebih cepat dan dekat dengan audiens digital.
"Sekarang homeless itu dianggap saingan. Jadi media harus punya pembeda, salah satunya lewat konfirmasi dan validasi informasi,' ujarnya.
Ia menegaskan kekuatan utama media profesional dibanding akun anonim di media sosial adalah kemampuan melakukan verifikasi langsung kepada narasumber.
Selain itu, Nicha menilai kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak akan sepenuhnya menggantikan peran wartawan.
Justru, menurutnya, kemampuan verifikasi dan konfirmasi akan semakin penting di tengah otomatisasi konten digital.
"AI bisa baca data, tapi verifikasi dan konfirmasi itu tetap peran wartawan," tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Nicha juga mengingatkan wartawan ekonomi agar mampu membuat berita explainer dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami masyarakat.
Ia menyebut wartawan tidak perlu takut bertanya kepada ahli ketika menemukan isu ekonomi yang rumit.
Dari penjelasan para ekonom, wartawan justru bisa menemukan angle yang lebih dekat dengan publik.


