Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
SURABAYA - Praktisi media nasional, Muhammad Fajar Marta membagikan strategi membuat berita ekonomi menjadi lebih menarik, mudah dipahami, dan dekat dengan masyarakat di era digital.
Ini disampaikannya saat memberikan materi penulisan dengan perspektif dan analisis yang komprehensif dan integratif dalam kegiatan Capacity Building yang digelar Bank Indonesia (BI) Balikpapan di Hotel Platinum Surabaya, Kamis (21/5/2026).
Dalam paparannya, Fajar menyebut ada enam prinsip penting agar artikel ekonomi tidak terasa berat bagi pembaca.
Mulai dari memberi perspektif, menjelaskan istilah ekonomi, menyederhanakan singkatan, menggunakan grafis untuk membaca tren angka, menjelaskan sebab akibat, hingga mengaitkan isu ekonomi dengan masyarakat sebagai pengguna akhir atau end user.
Menurutnya, tantangan utama wartawan ekonomi adalah membuat isu yang rumit menjadi sederhana tanpa menghilangkan substansi informasi.
"Reporternya dulu harus paham. Paham apa itu BI rate, inflasi, PDB, hubungan antar semuanya seperti apa, baru bisa menjelaskan dengan tulisan yang baik," ucap redaktur senior ini.
Fajar mengatakan, banyak pembaca langsung kehilangan minat ketika berita ekonomi dipenuhi istilah dan singkatan yang sulit dipahami sejak judul maupun lead berita.
Karena itu, ia menyarankan wartawan menghindari penggunaan singkatan ekonomi di bagian awal tulisan.
"Kalau bisa di judul jangan ada singkatan. Misalnya BI Rate diganti saja dengan suku bunga acuan supaya lebih gampang dipahami masyarakat," katanya.
Ia juga mencontohkan istilah inflasi bisa diganti sementara dengan kalimat sederhana seperti "harga barang naik" agar lebih dekat dengan pembaca awam.
Selain isi berita, Fajar mengingatkan pentingnya membuat judul yang menarik namun tidak menyesatkan atau clickbait.
Menurutnya, judul adalah janji yang harus dijelaskan dalam isi berita.
"Judul itu janji. Jangan bombastis tapi isinya enggak ada," ujarnya disambut tawa peserta.
Dalam sesi diskusi, Fajar juga mengapresiasi langkah BI Balikpapan yang dinilai konsisten meningkatkan kapasitas wartawan daerah melalui pelatihan dan gathering jurnalistik ekonomi.
Ia menilai peningkatan pemahaman ekonomi bagi wartawan daerah penting dilakukan karena banyak reporter di daerah tidak selalu fokus meliput isu ekonomi setiap hari seperti di Jakarta.
"Yang dilakukan Bank Indonesia ini keren, karena membantu teman-teman wartawan daerah lebih memahami ekonomi," katanya.
Fajar turut menekankan wartawan baru tidak perlu takut belajar isu ekonomi meski belum memiliki latar belakang khusus.
Menurutnya, proses learning by doing atau belajar sambil praktik merupakan hal yang biasa dalam dunia jurnalistik.
Ia berharap wartawan daerah dapat terus meningkatkan kemampuan memahami isu ekonomi agar mampu menghasilkan tulisan yang informatif sekaligus mudah dipahami masyarakat luas.


