De Javasche Bank Surabaya Jadi Saksi Sejarah Perbankan, Cagar Budaya Ini Capai 6 Ribu Pengunjung

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Area konter teller De Javasche Bank di Surabaya, Kamis (21/5/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Area konter teller De Javasche Bank di Surabaya, Kamis (21/5/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

De Javasche Bank Surabaya Jadi Saksi Sejarah Perbankan, Cagar Budaya Ini Capai 6 Ribu Pengunjung

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Area konter teller De Javasche Bank di Surabaya, Kamis (21/5/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Area konter teller De Javasche Bank di Surabaya, Kamis (21/5/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

De Javasche Bank Surabaya Jadi Saksi Sejarah Perbankan, Cagar Budaya Ini Capai 6 Ribu Pengunjung 

Area konter teller De Javasche Bank di Surabaya, Kamis (21/5/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin

SURABAYA - Bangunan megah dengan gaya arsitektur dan seni abad ke-19 atau disebut Neo-Renaissance yang berada di kawasan Jalan Garuda Nomor 1 Surabaya masih berdiri kokoh hingga kini. 

Gedung bersejarah bekas De Javasche Bank itu bukan hanya menjadi saksi perkembangan ekonomi kolonial Belanda, tetapi juga perjalanan lahirnya Bank Indonesia sebagai bank sentral Republik Indonesia.

Pengelola sekaligus pemandu De Javasche Bank Surabaya, Rizky Jayanto menjelaskan, De Javasche Bank merupakan bank sirkulasi milik Belanda yang pertama kali didirikan di Batavia pada 1828.

Setahun kemudian, cabang dibuka di Semarang dan Surabaya pada 1829. "Namun bangunannya waktu itu masih bangunan klasik.

Kemudian pada tahun 1907 dipugar karena perekonomian Belanda berkembang pesat dari hasil perdagangan rempah-rempah. Akhirnya dibangun gedung yang sekarang ini dan selesai pada tahun 1910 dengan gaya Neo-Renaissance," kata Rizky saat memandu pengunjung, Kamis (22/5/2026).

Menurutnya, pada masa itu gedung De Javasche Bank menjadi salah satu bangunan termegah dan paling bergengsi di Kota Surabaya. 
Letaknya yang berdekatan dengan kawasan Jembatan Merah dan Pelabuhan Tanjung Perak juga membuatnya strategis sebagai pusat perdagangan dan aktivitas ekspor-impor.

Perjalanan gedung tersebut turut melewati berbagai fase sejarah Indonesia. Pada 1942, De Javasche Bank sempat dikuasai Jepang dan berubah nama menjadi Nanpo Kaihatsu Ginko (NKG). 

Setelah Jepang menyerah pada 1945, gedung kembali dikuasai Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) dan difungsikan lagi sebagai De Javasche Bank.

"Setelah Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Kemudian melalui proses nasionalisasi, saham De Javasche Bank dibeli pemerintah Indonesia dan pada 1 Juli 1953 resmi berubah menjadi Bank Indonesia," jelasnya.

Rizky menuturkan, gedung tersebut memiliki tiga lantai, termasuk ruang bawah tanah atau basement yang dahulu digunakan sebagai tempat penyimpanan uang dan emas batangan. 

Di lokasi itu masih terdapat tiga brankas asli peninggalan Belanda, termasuk pintu brankas seberat 13 ton yang masih berfungsi hingga kini.

"Mulai dari lantai, tralis, sampai rak penyimpanan uang semuanya masih asli peninggalan Belanda," ujarnya.

Di area basement juga dipamerkan berbagai koleksi mata uang dari masa ke masa, mulai dari uang kerajaan Nusantara, mata uang Gulden, Yen Jepang, Oeang Republik Indonesia (ORI), Republik Indonesia Serikat (RIS) hingga Rupiah dengan berbagai seri seperti seri pahlawan, hewan dan pekerja.

Selain itu, pengunjung juga dapat melihat mesin-mesin operasional Bank Indonesia tempo dulu, seperti mesin penghancur uang, mesin penghitung uang koin, hingga mesin clearing antarbank berbasis cek dan giro.

Rizky mengatakan, gedung De Javasche Bank Surabaya resmi ditetapkan sebagai cagar budaya pada 27 Januari 2012 dan kini difungsikan sebagai pusat edukasi sejarah perbankan oleh Bank Indonesia.

"Kalau sekarang statusnya masih cagar budaya, belum menjadi Museum Bank Indonesia seperti di Jakarta. Harapannya ke depan mudah-mudahan bisa diresmikan menjadi Museum Bank Indonesia di Surabaya," katanya.

Ia menjelaskan, untuk menjadi museum resmi terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, mulai dari struktur organisasi, kurator, edukator hingga standar operasional museum.

Meski begitu, antusiasme masyarakat untuk berkunjung disebut terus meningkat. Rata-rata kunjungan mencapai sekitar 6.000 orang per bulan, baik dari pelajar, mahasiswa, wisatawan umum, hingga wisatawan mancanegara yang datang melalui kapal pesiar.

"Kalau kapal pesiar biasanya singgah di Pelabuhan Perak, lalu salah satu destinasi yang dikunjungi ya De Javasche Bank ini," ujarnya.

Momentum Hari Kartini beberapa waktu lalu juga mendongkrak jumlah pengunjung secara signifikan. 

Dalam kegiatan bertema museum dan perjuangan perempuan, jumlah pengunjung mencapai sekitar 3.700 orang hanya dalam empat hari, melampaui target awal sebanyak 1.000 pengunjung.

Selain menikmati wisata sejarah, pengunjung juga dapat membeli berbagai souvenir hasil kerja sama dengan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) binaan Bank Indonesia, seperti gantungan kunci, tote bag, mug, hingga kaos bertema uang dan sejarah perbankan.

De Javasche Bank Surabaya dibuka untuk umum setiap Selasa hingga Minggu pukul 08.00-16.00 WIB dan tutup pada hari Senin serta libur nasional. Lokasinya juga mudah diakses karena berada dekat halte Surabaya Bus dan kawasan wisata Kota Lama Surabaya.