Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin
NUNUKAN – Banjir yang melanda wilayah Kecamatan Sembakung sejak Senin (18/5/2026) mulai menunjukkan tanda-tanda surut.
Meski demikian, ancaman baru muncul berupa tanah longsor yang kini mengancam permukiman warga di Desa Atap, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan pada Jumat (21/5/2026) pukul 08.00 WITA, tinggi muka air Sungai Sembakung saat ini berada di angka 3,5 meter.
Ketinggian tersebut mengalami penurunan sekitar 5 centimeter dibandingkan kondisi pada Kamis (20/5/2026) sore.
Kepala Subsi Bidang Penyelamatan dan Evaluasi BPBD Nunukan, Hasanuddin mengatakan secara umum kondisi banjir di wilayah Kecamatan Sembakung mulai berangsur surut.
Namun, di tengah menurunnya debit air, bencana longsor justru terjadi di RT 04 Desa Atap. Longsor dipicu oleh tanah bantaran sungai yang terus terkikis arus banjir selama beberapa hari terakhir.
Akibat kejadian tersebut, sedikitnya empat rumah warga terdampak. Bahkan, satu kepala keluarga yang terdiri dari empat jiwa terpaksa membongkar bagian dapur rumah mereka secara mandiri demi menghindari risiko longsor yang lebih besar.
“Langkah itu dilakukan warga sebagai bentuk antisipasi karena kondisi tanah di sekitar rumah sudah mengalami pergeseran,” ujarnya.
BPBD Nunukan kini terus melakukan pemantauan di lokasi guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya longsor susulan, khususnya di kawasan bantaran sungai yang dinilai rawan mengalami abrasi dan pergerakan tanah.
Meski sebagian wilayah masih terdampak banjir, aktivitas masyarakat di Kecamatan Sembakung dilaporkan tetap berjalan normal.
"Pelayanan pemerintahan, kegiatan belajar mengajar di sekolah hingga aktivitas ekonomi masyarakat masih dapat berlangsung seperti biasa," benernya.
BPBD juga mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai agar tetap waspada terhadap potensi longsor susulan, terutama saat curah hujan kembali meningkat.


