Reporter: Siswandi I Editor: Buniyamin
SANGATTA — Ikan nila dan gurami yang setiap hari dijual di pasar Sangatta Kabupaten Kutai Timur (Kutim) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) selama ini bukan hasil tangkapan atau budidaya lokal. Sebagian besar didatangkan dari daerah luar seperti Tenggarong, Samarinda, Balikpapan, bahkan Banjarmasin.
Tapi sebuah kelompok perikanan letaknya di Kilo 3 Sangatta Kutim kini sedang membuktikan bahwa Kutim sebenarnya tidak perlu terus bergantung ke luar daerah.
Kelompok Perikanan Lembah Bumi Makmur menggelar panen perdana ikan nila dan gurami dari kolam seluas hampir dua hektar, setelah empat bulan masa pemeliharaan.
Hasilnya, dalam tiga hingga empat bulan, ikan sudah mencapai bobot 4—5 ekor per kilogram ukuran layak jual dengan harga pasaran Rp45.000 hingga Rp50.000 per kilogram.
"Masa harus kita mengimpor dari luar daerah? Sebenarnya banyak yang bisa kita manfaatkan kalau masyarakat ini bisa dibina," kata Ketua Kelompok Perikanan Lembah Bumi Makmur, Ahmad Haryadi.
Kolam ini bukan dibangun baru. Lahan di kawasan Kilo 3 Sangatta Kutim itu sudah ada sejak sekitar lima tahun lalu, tapi bertahun-tahun terbengkalai.
Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI/POLRI (FKPPI) Kutim dan Kelompok Perikanan Lembah Bumi Makmur kemudian berinisiatif menghidupkannya kembali dan mengajak Komite Tani Muda (KTM) di bawah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kutim untuk berkolaborasi.
"Kolam ini sebetulnya kolam kelompok dulunya, tapi terbengkalai. FKPPI Kutim dan Kelompok Perikanan Lembah Bumi Makmur punya inisiatif untuk mengembangkan kembali, dan akhirnya kami diajak kolaborasi," ungkap Ketua KTM KNPI Kutim, Saddam Amrul saat diwawancarai via telepon WhatsApp.
Masalah pertama langsung muncul tidak ada anggaran. PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang kemudian turun tangan, membantu membuka kembali kawasan itu menggunakan alat berat.
Setelah lahan siap, Dinas Perikanan Kabupaten Kutim masuk menyuplai ribuan bibit nila dan gurami berikut pakan meski jumlahnya diakui belum memadai.
"KPC yang bantu kami waktu itu untuk buka kembali kawasan itu. Setelah itu, akhir tahun kemarin kami juga dibantu Dinas Perikanan untuk pengadaan bibit ikan," jelas Saddam.
Ia mengakui, pemberian bibit saat itu lebih bersifat uji coba. "Ibaratnya eksperimen, karena kami belum tahu kondisinya bagaimana di situ kan rawa. Mana tahu dibantu, tiba-tiba banjir, kan rugi lagi," sambunganya.
Ahmad Haryadi membenarkan bahwa bantuan bibit yang diterima masih terbatas. "Kemarin kita dikasih ikan gurami ada 2.000, ikan nilanya 5.000. Tapi namanya kolam baru pertama kita buka, kita syukuri. Belum memadai juga," jelasnya.
Dari delapan kolam yang tersedia di lahan itu, baru empat yang aktif digarap. Tujuh kolam telah dibagi fungsinya sebagian untuk pembibitan, sebagian untuk pengembangan.
Panen perdana Kamis 21 Mei 2026 kemarin tidak ditimbang total. Sebagian ikan diambil secara simbolis dan dibagikan kepada tamu undangan, sementara sisanya tetap dipelihara.
"Enggak ada ditimbang karena kita langsung panen perdana. Kita membuktikan bahwa kita sudah berhasil. Masih banyak ikannya di dalam, cuma sebagian saja diambil — untuk oleh-oleh buat mereka yang hadir. Sebagian kita masukkan ke keramba," terang Ahmad Haryadi.
Hasil konfirmasi dengan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) memperkuat keyakinan kelompok ini. "Dari PPL, ikan itu sudah maksimal bagus. Dalam 4 bulan sudah ada yang 4 ekor sekilo, 5 ekor sekilo. Perkembangannya bagus," kata Ahmad.
Ada tantangan lapangan yang juga diakui terus terang oleh kelompok ini. Lahan yang berada di kawasan rawa membuat kolam rentan terhadap predator liar.
"Sementara di sini kan ada biawak dengan berang-berang. Seandainya ke depan kita dikasih bantuan untuk pagar, insyaallah kalau dipagar ya akan lebih aman," ujar Ahmad Haryadi.
Bendahara kelompok perikanan sekaligus Ketua FKPPI Kutim, Nur Dina menegaskan harapan besar kepada pemerintah untuk tidak berhenti di titik ini.
"Kami sangat berharap dukungan dari pemerintah, terutama dari Dinas Perikanan, pertanian, dan kalau bisa dari Bupati dan Wakil Bupati," harapnya.
Panen perdana disaksikan sejumlah instansi Dinas Perikanan, Dinas Ketahanan Pangan, Kodim, perwakilan Pengadilan, FKPPI, dan KNPI. Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmi hingga PT KPC, turut hadir pada Kamis (21/5/2026).
Peresmian kolam sebelumnya dilakukan Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi yang mewakili Bupati yang sedang dinas luar.
Terkait keberlanjutan dukungan KNPI, Ahmad Haryadi menyebut ada komitmen yang sudah dijanjikan. "Dari Ketua KNPI Avivurrahman panggilan sapaannya Abi dijanjikan insyaallah tahun ini akan maksimal dibantu untuk kelanjutan kolam ini. Soalnya kemarin kan belum maksimal bantu ke kita," lanjut Ahmad.
Kelompok ini juga menyatakan kesiapannya menjadi pemasok untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). "Kita bukan stop sampai di sini saja. Kita inginnya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, untuk MBG, untuk program pemerintah. Itu program presiden kita sebagai masyarakat harus mendukung," tegas Ahmad Haryadi.
Saddam Amrul menutup dengan pesan yang lebih luas bagi sesama pemuda. "Semoga ini bisa menjadi motivasi buat teman-teman yang lain. Kemandirian pangan itu tidak mesti menunggu sesuatu yang besar. Berawal dari yang kecil-kecil dulu salah satu contohnya di Cilok 3 ini. Karena ada kemauan dari teman-teman untuk mengembangkan, dan alhamdulillah sudah kita lihat hasilnya sendiri," pungkas Arul panggilan sapaannya.


