Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
MOJOKERTO - Kepala Desa (Kades) Ketapanrame, Zainul Arifin berharap masyarakat di sekitar kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai menyiapkan produk unggulan dan memberdayakan warga sejak sekarang agar tidak tertinggal ketika aktivitas pemerintahan mulai terpusat di IKN.
Ini disampaikannya saat menerima kunjungan Capacity Building wartawan yang digelar Bank Indonesia Balikpapan di Mojokerto, Jawa Timur, Jumat (22/5/2026).
Ia mencontohkan pengembangan kopi di Desa Ketapanrame yang kini menjadi salah satu produk unggulan desa.
Bahkan, kopi asal Ketapanrame kini banyak dipasarkan di Jawa Timur dan diminati pasar lokal.
"Kalau rata-rata panen ideal bisa mencapai 50 ton per tahun. Untuk ekspor belum karena stok terbatas dan pasar lokal masih sangat kuat," jelasnya.
Ia mengungkapkan, harga jual kopi di pasar domestik juga dinilai lebih menguntungkan dibandingkan ekspor sehingga pihaknya masih fokus memenuhi permintaan lokal.
Selain menjual produk kopi, pihak desa juga mulai mengembangkan wisata edukasi perkebunan kopi. Wisatawan nantinya dapat mengikuti paket perjalanan ke kebun kopi, belajar proses budidaya hingga camping di area perkebunan.
"Kami tidak hanya menjual kopi, tapi juga menjual pengalaman di perkebunan kopi. Jadi wisata alam berbasis edukasi," katanya. Pengembangan tersebut dilakukan bersama kelompok tani hutan tanpa mengubah fungsi kawasan hutan.
Program itu diproyeksikan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar 10 hingga 20 persen.
Zainul menyebut Desa Ketapanrame juga kerap menjadi tujuan studi banding dari berbagai daerah, termasuk dari Kalimantan Selatan (Kalsel). Banyak daerah datang untuk belajar konsep pemberdayaan masyarakat yang diterapkan desa.
"Teman-teman dari Kalimantan banyak belajar bagaimana kami tidak hanya membuat wisata, tapi melibatkan masyarakat melalui pemberdayaan," ucapnya.
Menurutnya, Kalimantan memiliki peluang besar mengembangkan komoditas kopi, terutama kopi robusta yang dapat tumbuh di wilayah dengan ketinggian rendah.
"Kalimantan sangat potensial. Lahannya masih alami dan bagus untuk kopi. Kalau Aceh, Sumatera, Jawa punya kopi khas, Kalimantan juga bisa punya kopi sendiri," tambahnya.
Dalam pengembangan kopi dan wisata desa, Zainul mengatakan pihaknya mendapat dukungan dari Bank Indonesia berupa bantuan alat produksi hingga pembangunan rumah produksi.
"Mulai mesin pemilah, roasting, pengemasan sampai rumah produksi dibangun oleh Bank Indonesia supaya kelompok tani punya tempat usaha yang layak," katanya.
Ia menyebut bantuan tersebut memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Pendapatan sektor wisata desa pun mulai mengalami kenaikan setelah sempat turun pada 2024.
"Kalau pendapatan wisata, tahun 2024 sekitar Rp1,6 miliar, tahun 2025 naik Rp1,9 miliar, dan tahun ini targetnya bisa mencapai Rp2,3 miliar," pungkasnya.


