Ratusan Penyu Terdeteksi di Perairan Berau, Habitat Peneluran Masih Aman

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Penyu Hijau di perairan Pulau Maratua. (Foto: YKAN)
Penyu Hijau di perairan Pulau Maratua. (Foto: YKAN)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Ratusan Penyu Terdeteksi di Perairan Berau, Habitat Peneluran Masih Aman

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Penyu Hijau di perairan Pulau Maratua. (Foto: YKAN)
Penyu Hijau di perairan Pulau Maratua. (Foto: YKAN)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Ratusan Penyu Terdeteksi di Perairan Berau, Habitat Peneluran Masih Aman

Penyu Hijau di perairan Pulau Maratua. (Foto: YKAN)

Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di Kabupaten Berau masih menjadi rumah aman bagi penyu. Hasil pemantauan terbaru yang dilakukan sejumlah lembaga konservasi dan pemerintah menunjukkan sebagian besar habitat peneluran penyu di wilayah ini masih berada dalam kondisi sangat baik.

Pemantauan tersebut dilakukan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Timur, Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, serta kelompok masyarakat pegiat konservasi di kawasan Kepulauan Derawan dan sekitarnya.

Survei dilakukan di sejumlah titik penting habitat penyu seperti Pulau Mataha, Sangalaki, Bilang-bilangan, Derawan, Teluk Sulaiman hingga Balikukup. Selain memantau lokasi peneluran, tim juga melakukan penghitungan populasi penyu menggunakan teknologi pesawat nirawak atau drone.

Hasilnya, dari 27 titik pemantauan habitat, sebanyak 26 lokasi dinilai sangat cocok menjadi tempat penyu bertelur. Pantai-pantai tersebut memiliki kondisi pasir yang baik, vegetasi alami yang masih terjaga, serta minim gangguan aktivitas manusia.

Pulau Mataha menjadi salah satu lokasi terbaik karena masih alami dan tidak berpenghuni. Minimnya cahaya lampu dan aktivitas manusia membuat kawasan itu dinilai ideal sebagai tempat penyu berkembang biak.

Meski demikian, ancaman terhadap habitat penyu masih ditemukan di beberapa wilayah. Abrasi pantai, kenaikan muka air laut, sampah pesisir hingga pencahayaan buatan di kawasan padat penduduk menjadi tantangan yang dapat mengganggu penyu saat naik ke pantai untuk bertelur.

Kepala DKP Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy mengatakan hasil pemantauan ini menjadi dasar penting dalam memperkuat perlindungan kawasan konservasi laut di Berau.

Menurutnya, Berau memiliki nilai ekologis yang sangat penting karena menjadi bagian dari kawasan Segitiga Terumbu Karang dunia sekaligus habitat utama penyu hijau terbesar di Indonesia.

“Habitat peneluran penyu di Berau sebagian besar masih sangat baik. Ini harus dijaga bersama melalui pengelolaan kawasan konservasi yang melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Selain survei darat, tim juga melakukan pemetaan udara di 12 lokasi menggunakan drone beresolusi tinggi. Teknologi tersebut memungkinkan tim memantau penyu secara lebih detail, termasuk di wilayah laut dangkal, padang lamun dan area terumbu karang.

Dari hasil pemantauan udara, tim berhasil mengidentifikasi sedikitnya 913 ekor penyu di kawasan pesisir Berau. Data tersebut memperkuat posisi Berau sebagai salah satu habitat penting penyu di Indonesia.

Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie menyebut penggunaan teknologi membuat proses pemantauan menjadi lebih efektif dan akurat.

“Data yang dihasilkan membantu pengambilan keputusan berbasis ilmiah untuk pengelolaan kawasan konservasi,” katanya.

Tak hanya fokus pada kondisi habitat, survei juga melibatkan masyarakat pesisir. Sebanyak 75 nelayan dari sejumlah kampung diwawancarai untuk mengetahui pandangan mereka terhadap konservasi penyu.

Hasilnya, mayoritas masyarakat dinilai sudah memiliki kesadaran tinggi terhadap perlindungan penyu. Hampir seluruh responden mengetahui bahwa perburuan penyu merupakan tindakan ilegal.

Banyak nelayan juga mengaku masih sering melihat penyu di laut maupun di pantai sepanjang tahun. Sebagian bahkan menilai populasi penyu mulai meningkat dibanding beberapa tahun lalu karena pengawasan dan kegiatan konservasi yang semakin aktif.

Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN, Yusuf Fajariyanto menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan habitat penyu di Berau.

Konservasi tidak dapat berjalan hanya mengandalkan pemerintah atau lembaga lingkungan saja, tetapi membutuhkan dukungan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan pesisir.

Selain menjadi habitat penyu, kawasan konservasi laut Berau juga menjadi rumah bagi berbagai biota penting lain seperti terumbu karang, mangrove, lamun, pari manta hingga mamalia laut.

Ke depan, hasil pemantauan tersebut akan digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi pengelolaan kawasan konservasi agar perlindungan habitat penyu dan ekosistem pesisir Berau dapat terus berjalan secara berkelanjutan.