Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan
NUNUKAN - Direktur Perumda Air Minum Tirta Taka Nunukan, Arpiansyah menyampaikan kondisi ketersediaan air baku di sejumlah embung di Nunukan mulai mengalami peningkatan seiring terjadinya hujan panjang pada, Minggu (24/5/2026) malam. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk menggunakan air secara bijak karena distribusi air bersih masih dilakukan secara bertahap.
Arpiansyah menjelaskan, volume air di Embung Bolong mengalami kenaikan signifikan. Saat ini tinggi muka air mencapai 1 meter 72 sentimeter dari sebelumnya hanya berada di angka 51 sentimeter. Sementara itu, kondisi serupa juga terjadi di Embung Bilal yang kini berada pada ketinggian 1 meter 70 sentimeter dari sebelumnya 48 sentimeter.
“Alhamdulillah, beberapa hari terakhir terjadi peningkatan volume air di embung. Ini tentu menjadi kabar baik bagi masyarakat dan juga Perumda Tirta Taka dalam upaya menormalkan pelayanan distribusi air bersih,” ujarnya, Senin (25/5/2026).
Dengan meningkatnya debit air tersebut, Perumda Tirta Taka berencana membuka sistem zonasi distribusi air secara keseluruhan mulai hari ini. Namun, pelaksanaannya tetap dilakukan secara bertahap guna menjaga stabilitas distribusi dan menyesuaikan kapasitas produksi air yang tersedia.
“Kami akan membuka zonasi secara menyeluruh, tetapi dilakukan bertahap agar distribusi tetap terjaga dan pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan optimal,” katanya.
Kendati kondisi embung mulai membaik, Arpiansyah tetap mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan air secara berlebihan, terutama menjelang momentum Iduladha yang biasanya diiringi dengan peningkatan kebutuhan air bersih di rumah tangga maupun tempat ibadah.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap memanfaatkan air secara bijak. Jangan berlebihan dalam penggunaan air agar kebutuhan seluruh pelanggan tetap dapat terpenuhi,” ucapnya.
Ia menambahkan, Perumda Tirta Taka juga berharap intensitas hujan di Pulau Nunukan dan Sebatik dapat terus berlangsung sehingga cadangan air baku kembali normal dan pelayanan distribusi air bersih dapat pulih sepenuhnya.
Menurut Arpiansyah, secara klimatologis masa akhir kemarau di Pulau Nunukan sebenarnya telah berakhir pada akhir Februari 2026. Namun, fenomena El Nino menyebabkan durasi musim hujan tahun ini menjadi lebih pendek dibanding kondisi normal.
“Fenomena El Nino cukup memengaruhi kondisi cuaca sehingga curah hujan yang terjadi tidak maksimal. Berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim hujan diperkirakan baru akan terjadi pada Agustus 2026 mendatang,” pungkasnya.


