Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB - Permasalahan sosial di Kabupaten Berau masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam penanganan warga rentan seperti lanjut usia (lansia), anak-anak terlantar hingga penyandang disabilitas yang membutuhkan perawatan khusus.
Hingga kini, Pemerintah Kabupaten Berau belum memiliki panti sosial sendiri, sehingga penanganan lanjutan masih mengandalkan fasilitas di luar daerah.
Kepala Dinas Sosial Berau, Iswahyudi menjelaskan, kondisi tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan aturan yang berlaku, pembangunan dan pengelolaan panti sosial menjadi kewenangan pemerintah provinsi.
Sementara pemerintah kabupaten lebih difokuskan pada pelayanan rehabilitasi sosial di luar panti, termasuk penyediaan rumah singgah atau layanan sementara.
Akibat keterbatasan itu, warga Berau yang membutuhkan penanganan intensif kerap dirujuk ke panti sosial di daerah lain, seperti Samarinda maupun Bulungan.
Pengiriman dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah tujuan.
Menurut Iswahyudi, khusus penanganan lansia, terdapat kerja sama antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang memungkinkan kedua wilayah saling membantu dalam penyediaan layanan panti sosial.
“Kalau memang diperlukan, kita bisa mengirim ke Kaltara, begitu juga sebaliknya. Itu sudah ada kerja sama antarwilayah,” ujarnya.
Meski begitu, jarak tempuh menuju panti sosial menjadi persoalan tersendiri.
Untuk itu, Dinas Sosial Berau mendorong adanya pembangunan panti sosial yang lokasinya lebih dekat dengan wilayah utara Kalimantan Timur.
Ia menilai keberadaan panti di wilayah seperti Kutai Timur dapat menjadi solusi karena mampu menjangkau masyarakat Berau tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke kota lain.
“Harapannya ada fasilitas yang lebih dekat supaya masyarakat yang membutuhkan layanan sosial tidak kesulitan akses,” katanya.
Di sisi lain, Dinsos Berau juga menghadapi tantangan minimnya tenaga pendamping atau caregiver. Padahal, peran mereka sangat penting untuk merawat dan mendampingi kelompok rentan dalam aktivitas sehari-hari, terutama lansia, anak-anak, hingga penyandang disabilitas.
Untuk kebutuhan medis tertentu, pihaknya masih bisa berkoordinasi dengan puskesmas setempat. Namun, pendampingan rutin tetap membutuhkan tenaga khusus yang hingga kini jumlahnya masih terbatas.
Kondisi ini membuat Dinsos berharap adanya dukungan lebih besar dari pemerintah provinsi, baik melalui pembangunan fasilitas maupun penambahan sumber daya manusia, agar layanan sosial bagi warga Berau bisa lebih mudah dijangkau dan maksimal.


