Diabetes dan Hipertensi Tak Lagi Kenal Usia, Dinkes Samarinda Soroti Pola Hidup

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih saat ditemui di ruangannya, Senin (25/5/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih saat ditemui di ruangannya, Senin (25/5/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Diabetes dan Hipertensi Tak Lagi Kenal Usia, Dinkes Samarinda Soroti Pola Hidup

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih saat ditemui di ruangannya, Senin (25/5/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih saat ditemui di ruangannya, Senin (25/5/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Diabetes dan Hipertensi Tak Lagi Kenal Usia, Dinkes Samarinda Soroti Pola Hidup

Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih saat ditemui di ruangannya, Senin (25/5/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin 

SAMARINDA - Penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes melitus dan hipertensi kini menjadi ancaman serius yang terus mengalami peningkatan setiap tahun. 

Tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia, pola hidup modern membuat kasus PTM, mulai banyak ditemukan pada usia produktif dan menjadi perhatian dunia kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda, Ismid Kusasih menyebut diabetes dan hipertensi kini mulai banyak menyerang usia muda.

Menurut Ismid, diabetes dan hipertensi merupakan dua penyakit tidak menular yang saat ini menjadi perhatian serius pemerintah pusat melalui Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan sebagaimana diatur dalam Permenkes Nomor 4 Tahun 2019.

“Dua penyakit tidak menular ini ujung-ujungnya yang dikhawatirkan adalah angka kematiannya cukup tinggi. Itu yang menjadi concern dari Kementerian Kesehatan,” kata Ismid, Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan, diabetes melitus dan hipertensi masuk dalam 12 jenis layanan kesehatan wajib yang harus diawasi dan ditangani pemerintah daerah. 

Untuk itu, Dinkes Samarinda terus melakukan pemantauan dan penanganan rutin terhadap para penderita setiap tahunnya.

Pada 2025 lalu, Dinkes Samarinda mencatat sasaran penanganan hipertensi mencapai sekitar 217 ribu orang dengan capaian pelayanan hampir 99 persen.

Sementara untuk diabetes melitus, dari sekitar 24 ribu sasaran penderita, penanganannya telah mencapai hampir 97 persen.

Hasil survei kesehatan dasar Kementerian Kesehatan juga memperlihatkan prevalensi PTM terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Pada 2023, angka kasus diabetes melitus tercatat mencapai 10,9 persen, hipertensi 34,1 persen, stroke 12,1 persen, serta penyakit jantung koroner sebesar 13,4 persen.

Data World Health Organization (WHO) juga mencatatkan lebih dari 43 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit tidak menular sepanjang 2021. 

“Karena ini program wajib dalam standar pelayanan minimal, maka setiap tahun terus menjadi perhatian kami,” ungkapnya.

Ismid menyebut faktor utama pemicu meningkatnya kasus diabetes dan hipertensi saat ini paling banyak dipengaruhi pola hidup masyarakat. Konsumsi makanan tinggi gula, garam dan karbohidrat menjadi salah satu penyebab dominan.

“Kalau hipertensi biasanya konsumsi garam tinggi. Kalau diabetes tentu pola makan dan konsumsi gula, serta karbohidrat yang berlebihan,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa faktor usia memang turut mempengaruhi meningkatnya risiko penyakit tersebut.

Namun saat ini tren penderita justru mulai bergeser ke kelompok usia yang lebih muda akibat perubahan pola hidup masyarakat modern.

“Dulu biasanya usia di atas 45 atau 50 tahun. Sekarang semakin banyak menyerang usia muda karena gaya hidup. Apalagi sekarang makanan instan sangat mudah ditemukan,” bebernya.

Ia berharap masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga pola hidup sehat, mulai dari mengatur pola makan, rutin berolahraga, hingga mengurangi konsumsi gula dan garam berlebihan. 

Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin juga dinilai penting dilakukan sebagai langkah deteksi dini agar risiko penyakit tidak menular dapat ditangani lebih cepat.