Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan
TENGGARONG - Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan ketersediaan hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha 2026 dalam kondisi aman dan mencukupi. Total sekitar 6.000 ekor sapi kurban disiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Kukar.
Kepala Bidang Peternakan Distanak Kukar, Iwan Hermawan mengatakan, dari jumlah tersebut sekitar 450 ekor sapi tersedia khusus di wilayah Tenggarong yang tersebar di sejumlah titik penjualan hewan kurban.
“Kalau total seluruh Kukar itu semuanya ada sekitar 6.000 sapi kurban tersedia. Kalau khusus Tenggarong itu sekitar 450 ekor sapi yang ada di penjual-penjual,” ujarnya.
Ia menambahkan, wilayah Samboja dan Samboja Barat menjadi daerah dengan stok sapi kurban terbanyak di Kukar, yakni mencapai sekitar 1.000 ekor.
“Paling banyak itu di Samboja. Jadi Samboja itu sekitar 1.000 ekor disiapkan di sana, Samboja dan Samboja Barat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, seluruh hewan kurban yang dijual telah melalui pemeriksaan kesehatan oleh petugas Distanak Kukar. Hewan yang dinyatakan sehat kemudian diberikan penanda sebagai bukti layak dijadikan hewan kurban.
“Setelah diperiksa bahwa itu sehat, kita kalungkan bahwa itu layak untuk menjadi sapi kurban,” katanya.
Meski demikian, petugas masih menemukan beberapa hewan yang tidak memenuhi syarat kurban akibat mengalami cedera saat perjalanan distribusi.
“Ada beberapa di tempat penjual itu ada yang tidak layak seperti kakinya patah dari tempat penampungnya saat perjalanan,” ungkapnya.
Iwan menyebut, sapi kurban yang masuk ke Kukar berasal dari tiga sumber utama, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, dan peternak lokal Kukar. Mayoritas sapi didatangkan dari Kupang, NTT, karena wilayah tersebut telah bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
“Kenapa dari Kupang, di sana itu sudah bebas penyakit mulut dan kuku. Jadi tidak perlu karantina lagi di Samarinda,” jelasnya.
Sementara sapi asal Sulawesi masih harus menjalani proses karantina di Balikpapan selama 12 hingga 15 hari karena wilayah asalnya masih ditemukan kasus PMK.
“Kalau yang masih dari Sulawesi itu masih ada penyakit PMK-nya. Itu dikarantina selama 12 atau 15 hari di karantina Balikpapan,” katanya.
Menurutnya, sekitar 60 persen sapi kurban di Kukar berasal dari NTT, 20 persen dari Sulawesi, dan 20 persen lainnya merupakan sapi lokal.
Distanak Kukar memperkirakan sekitar 90 persen hewan kurban yang disiapkan akan terjual karena sebagian besar telah dipesan masyarakat jauh hari sebelum Iduladha.
“Sekitar 90 persen, karena mereka sudah terpesan. Pedagang itu biasanya stok berdasarkan pesanan masyarakat,” jelasnya.
Selain sapi, Distanak Kukar juga mencatat ketersediaan sekitar 1.000 ekor kambing kurban. Hewan tersebut berasal dari peternak lokal maupun luar daerah.
Jenis kambing yang tersedia antara lain kambing kacang lokal dan kambing peranakan etawa yang banyak didatangkan dari Jawa dan Banjar.
“Kalau kambing untuk sementara ini di Kukar sekitar ada seribu disediakan. Dari lokal juga ada, dari luar Kutai Kartanegara juga ada,” katanya.
Di salah satu lokasi penjualan, lanjut Iwan, terdapat sekitar 60 ekor kambing campuran lokal dan Banjar yang telah diperiksa kesehatannya. Mayoritas dinyatakan layak kurban.
“Kalau di sini layak semua ini, ada beberapa temuan aja mungkin satu atau dua ekor,” tutupnya.


