Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - Bagi Anda yang baru belajar investasi atau sering memantau pergerakan ekonomi, pekan lalu mungkin menjadi momen yang cukup mendebarkan.
Pasar saham Indonesia yang tecermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sempat merosot tajam alias "kebakaran" ke level terendahnya sepanjang tahun ini.
Sepanjang periode 18-22 Mei 2026, IHSG anjlok hingga -8,35 persen. Artinya, nilai perusahaan-perusahaan besar di Indonesia yang tercatat di bursa sempat menyusut drastis akibat aksi jual massal.
Analis Saham dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari mengungkapkan bahwa kepanikan investor dipicu oleh dua faktor utama, yakni tekanan ekonomi dari Amerika Serikat serta ketegangan politik di Timur Tengah yang sempat melambungkan harga minyak dunia.
"Kondisi di Amerika Serikat yang masih menahan suku bunga tinggi membuat mata uang dolar AS makin perkasa. Akibatnya, nilai tukar Rupiah kita sempat tertekan," kata Brigita dalam keterangan resminya, Selasa (26/5/2026).
Selain faktor global, kebijakan domestik berupa kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) juga sempat memicu kekhawatiran pelaku pasar terkait perlambatan roda ekonomi, meskipun langkah tersebut diambil demi menyelamatkan mata uang Rupiah.
Namun, situasi mulai mereda menjelang akhir pekan lalu berkat adanya sentimen positif dari luar negeri dan rumor penundaan aturan baru ekspor komoditas strategis.
Memasuki pekan ini pada 25-29 Mei 2026, pasar keuangan diprediksi masih akan bergerak naik-turun atau volatil.
Situasi ini diperkirakan membuat para investor profesional cenderung mengambil sikap berhati-hati, terlebih waktu perdagangan di bursa hanya berjalan selama tiga hari akibat adanya libur nasional dan cuti bersama Hari Raya Iduladha.
Merespons kondisi pasar yang dinamis tersebut, Brigita mengimbau masyarakat umum serta investor pemula untuk tidak ikut panik dan lebih jeli dalam melihat peluang investasi pada saham-saham yang berfondasi kuat.
Beberapa sektor yang direkomendasikan antara lain sektor energi (MDKA) yang mulai diborong asing, sektor perbankan (BTPN) yang konsisten naik, dan sektor konsumsi (ULTJ) yang produknya selalu dibutuhkan masyarakat.
Bagi masyarakat yang belum mahir memantau pergerakan grafik saham secara mandiri, pihaknya menyarankan untuk beralih ke produk investasi alternatif yang cenderung lebih aman dan praktis, seperti Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD).
"ETF ini cocok di tengah pasar yang volatil karena mampu mengombinasikan potensi pendapatan dividen yang stabil dengan peluang keuntungan modal, sekaligus solusi praktis bagi investor yang ingin menikmati imbal hasil dividen tanpa perlu melakukan pemilihan saham secara mandiri," jelas Brigita.
Dari indikator dinamika pasar keuangan atau pasar global tersebut, ia mengingatkan pentingnya manajemen keuangan yang bijak bagi masyarakat awam dan pelaku bisnis yang ingin masuk ke pasar modal saat situasi pasar sedang bergejolak.
"Saat pasar saham sedang tidak stabil, kunci utamanya adalah jangan menggunakan uang dapur untuk investasi. Gunakan uang dingin, dan pilihlah perusahaan yang produknya Anda gunakan sehari-hari agar investasinya tetap tenang," pungkasnya.


