Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB - Sorotan masyarakat terhadap ketidakhadiran sejumlah pejabat dalam pelaksanaan pesta adat di salah satu kampung di Kabupaten Berau mendapat tanggapan dari Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu terburu-buru menilai negatif kondisi tersebut karena pelaksanaan kegiatan adat tetap berjalan dengan baik, meski di tengah keterbatasan anggaran.
Gideon menjelaskan, pemerintah daerah saat ini tengah menerapkan kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada berbagai program, termasuk dukungan pendanaan untuk kegiatan budaya di tingkat kampung.
Adapun bantuan yang sebelumnya mencapai Rp100 juta kini mengalami penyesuaian menjadi sekitar Rp50 juta.
“Situasi efisiensi anggaran memang harus dipahami bersama. Yang terpenting, kegiatan adat itu tetap bisa terlaksana dan masyarakat masih berkomitmen menjaga warisan budaya yang dimiliki,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan pesta adat di tengah keterbatasan dana justru menunjukkan semangat dan kesungguhan masyarakat dalam mempertahankan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Untuk itu, fokus utama seharusnya bukan pada siapa yang hadir, melainkan pada keberlangsungan kegiatan budaya itu sendiri.
Gideon menilai panitia penyelenggara tentu memiliki pertimbangan tersendiri terkait undangan yang disebarkan.
Ia mengaku memahami apabila penyelenggara memilih menyesuaikan skala kegiatan dengan kemampuan anggaran yang tersedia agar tidak menambah beban biaya.
“Saya justru mengapresiasi mereka. Dengan anggaran yang terbatas, kegiatan tetap berjalan maksimal. Ini membuktikan bahwa anggaran bukan satu-satunya faktor penentu suksesnya sebuah kegiatan,” katanya.
“Paling penting adalah tradisi tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Itu yang harus kita apresiasi,” tutupnya.


